MAGELANG, suaramerdekakedu.com – Kota Magelang tidak hanya kaya akan pesona alamnya, tetapi juga menyimpan jejak peradaban penting masa lampau. Tepat di Kampung Meteseh, Kelurahan Magelang, Kecamatan Magelang Tengah, berdiri situs bersejarah Prasasti Mantyasih yang menjadi salah satu saksi bisu perjalanan Kerajaan Mataram Kuno.
Prasasti berbahan tembaga ini memuat catatan penting yang dikeluarkan pada masa pemerintahan Raja Dyah Balitung dari Wangsa Sanjaya sekitar tahun 907 Masehi. Prasasti ini diukir sebagai bukti legitimasi kekuasaan sang raja sekaligus penanda penetapan wilayah Desa Mantyasih sebagai kawasan sima atau daerah bebas pajak. Secara etimologis, nama Mantyasih sendiri mengandung makna “beriman dalam cinta kasih”.
Keberadaan artefak bersejarah ini menjadi salah satu daya tarik tersendiri bagi para pecinta sejarah maupun masyarakat umum yang ingin mengenal lebih dekat akar budaya Jawa Tengah, khususnya Kota Magelang. Suasana lingkungan situs yang asri di kawasan Meteseh menambah nilai edukatif bagi pengunjung yang datang.
Salah satu pengunjung lokal, Vani mengaku sangat terkesan saat melihat langsung situs bersejarah yang kerap menjadi referensi penetapan hari jadi Kota Magelang tersebut.
“Prasasti Mantyasih ini membuktikan kalau Magelang punya peradaban yang sangat maju sejak zaman Mataram Kuno,” ujar Vani saat ditemui di lokasi situs.
Vani menambahkan, keberadaan situs cagar budaya seperti Prasasti Mantyasih perlu terus dirawat dan dipromosikan agar generasi muda semakin bangga serta peduli terhadap peninggalan sejarah lokal.
Selain menjadi bukti sahnya kepemimpinan Raja Balitung dan penetapan tanah hadiah bagi lima patih kerajaan, Prasasti Mantyasih juga mengabadikan sembilan nama raja yang pernah berdaulat penuh atas wilayah Mataram Kuno, diantaranya Rakai Mataram Sang Ratu Sanjaya hingga Sri Maharaja Rakai Panangkaran. Hingga kini, peninggalan tersebut tetap menjadi kebanggaan warisan budaya warga Kota Magelang.


























































