MAGELANG, suaramerdekakedu.com – Suasana riuh dan lalu lalang pembeli yang dahulunya menjadi pemandangan harian di Pasar Rejowinangun, Kota Magelang, kini kian sunyi. Menurunnya aktivitas perdagangan pascapandemi COVID-19 ditambah maraknya platform belanja daring (e-commerce) membuat para pedagang pakaian di Rejowinangun harus menerima dampaknya..
Dua pedagang pakaian di Blok BB-19 Pasar Rejowinangun yaitu Tentrem dan Ina, mengungkapkan ada penurunan drastis omset yang mereka alami beberapa tahun belakangan. Usaha pakaian yang telah berdiri puluhan tahun tersebut kini kehilangan sebagian besar pelanggannya.
“Oh sangat berpengaruh. Sangat-sangat berpengaruh. Ya menangguh itu pasti. Mengeluh itu pasti. Sepi habis Corona” ujar Tentrem saat ditemui di kiosnya (03/09).
Menurut para pedagang, masa-masa sulit ini mulai sangat terasa setelah pandemi COVID-19. Jika dahulu penjualan masih berjalan lancar, kini tak jarang dalam sehari kios mereka hanya mampu menjual satu atau dua potong pakaian bahkan beberapa kali sempat sama sekali tidak ada barang yang terjual.
“Kadang satu, kadang dua, kadang nol. Sampai berturut-turut sampai 3 hari 4 hari,” ujar Ina.
Bahkan saat Hari Raya Idul Fitri yang biasanya ramai pembeli, bagi pedagang beberapa tahun ini sudah tidak seramai dahulu. Penjualan saat musim Lebaran kemarin merosot tajam dan hanya terjual sebagian besar saja.
Kondisi sepi ini memaksa para pedagang berhenti menambah modal belanja dalam jumlah besar. Kebanyakan dari mereka hanya memutar modal seadanya dengan membeli barang baru jika ada barang yang laku terjual.
Dampak dari sepinya pembeli ini terlihat nyata di lorong-lorong Pasar Rejowinangun. Banyak kios dan lapak pedagang yang akhirnya memilih gulung tikar. Bahkan untuk tetap memberikan gaji, sebagian pemilik usaha menerapkan sistem gilir kerja demi menghindari memutus hubungan kerja (PHK) karyawan yang menjadikan profesinya sebagai mata pencaharian.
“Karyawan juga digilir mba. 2 hari masuk, 1 hari libur, pasti. Digilir. Ini Pasar Rejowinangun menangis,” pungkas Ina.
Meski perdagangan digital sedang marak saat ini, untuk beralih ke platform belanja daring (e-commerce) para pedagang yang lanjut usia ini mengaku kesulitan dalam menggunakan teknologi digital. Di tengah masa sulit ini, para pedagang Pasar Rejowinangun hanya bisa berharap pasar akan kembali ramai seperti dahulu.
“Ya harapannya kembali seperti dulu, ramai. Kalau ramai kan senang mba, bisa mutar duitnya. Kalau ini kan engga. Dulu kita-kita tu kalau kerja tiap hari masuk gitu lho mba,” pungkas Ina saat diwawancarai (03/09).

















































