NASIONAL, suaramerdekakedu.com – Suasana haru menyelimuti kediaman orang tua Yudhistiro Pranoto di Kompleks LKBN Antara, Bintara, Kota Bekasi, Rabu (16/9/2026).Tangisan pecah mengiringi lantunan doa yang dipanjatkan pihak keluarga, kerabat, hingga rekan sesama jurnalis dan perwakilan kantor tempatnya bernaung. Mereka berhimpun memohon keselamatan Yudhistiro beserta empat wartawan lain yang dilaporkan hilang kontak saat menunaikan tugas peliputan erupsi Gunung Anak Krakatau di kawasan Selat Sunda.
Ketidakpastian menyurutkan sandaran harapan keluarga pada pertolongan Tuhan sembari menantikan kabar resmi dari tim Badan Nasional Pencarian dan Pertolongan (SAR) gabungan yang terus beroperasi di lapangan.
Kakak kandung Yudhistiro, Fera Hadiyanti, menyampaikan keikhlasan keluarga atas seluruh ketetapan Sang Pencipta, meski masih berharap adiknya kembali dalam kondisi selamat tetap terawat.
“Kita tidak bisa melawan takdir Allah. Kita tidak bisa berbuat apa-apa, hanya bisa berdoa. Kalau memang bisa diselamatkan, syukur alhamdulillah. Kalau pun tidak, kami keluarga ikhlas,” ujarnya.
-

Suasana haru menyelimuti kediaman orang tua Yudhistiro Pranoto saat keluarga dan rekan jurnalis menggelar doa bersama di Bekasi, Jawa Barat, Rabu (16/9/2026). Doa dipanjatkan untuk keselamatan lima jurnalis dan tiga kru kapal yang dilaporkan hilang kontak saat meliput erupsi Gunung Anak Krakatau di Selat Sunda.
Penanganan evakuasi serta penyisiran sepenuhnya dipercayakan kepada tim SAR. Mempertimbangkan cuaca dan kondisi di perairan Selat Sunda, pihak keluarga memutuskan untuk membatalkan niat bertolak langsung ke lokasi pencarian.
Fera menuturkan, sebelum menjalankan tugas jurnalistik tersebut, Yudhistiro tidak meninggalkan pesan khusus. Ia menuturkan rencana keberangkatan kepada sang istri dan baru memberi kabar kepada orang tua saat tiba di tujuan.
“Kalau izin, biasanya sama istrinya. Kalau ke mama, tidak. Seperti biasa saja. Mau kerja atau ke mana pun, biasanya setelah sampai baru bilang, ‘Saya ada di sini.’ Tidak ada firasat atau pesan-pesan apa pun,” katanya.
Dunia media dan seni fotografi merupakan kesukaan Yudhistiro. Sebagai anak kedua dari tiga bersaudara sekaligus putra tunggal di keluarga, ia dikenal memiliki daya juang tinggi serta tidak ragu mengambil risiko saat mengabadikan momen penting.
“Dia memang jiwa jurnalis banget. Kalau saya bilang, dia itu petarung, orangnya nekat. Dari dulu sudah punya jiwa jurnalis. Kalau sudah hobi jadi fotografer, dia totalitas. Apa pun yang terjadi, demi pekerjaan dan hobinya,” tuturnya.
Pengalaman meliput di zona konflik maupun wilayah berisiko tinggi bukanlah hal asing bagi Yudhistiro. Keluarga senantiasa memaklumi bahaya yang melekat pada profesinya, tetapi peristiwa hilang kontak kali ini tetap menjadi cobaan berat.
Kenangan manis terakhir diungkapkan oleh sang ibu, Juliasih. Kurang lebih sepekan sebelum insiden, Yudhistiro sempat berziarah ke makam almarhum ayahnya bersama sang buah hati, Kenzi. Saat itu, ia mengontak Juliasih untuk memberi tahu bahwa ia sedang membersihkan dan merapikan pusara sang ayah.
“Sebulan sekali dia biasanya ke rumah. Terakhir komunikasi dia lagi ke makam bapaknya. Karena saya tahu kesibukannya, kami maklum. Paling nanti sekadar telepon atau WhatsApp,” ujarnya.
Juliarsih menceritakan kabar duka ia ketahui saat selesai melaksanakan ibadah di rumah.
“Saya sedang salat Magrib. Biasanya bacaan saya taruh dulu. Tiba-tiba saya lihat HP, ada nama Yudhistiro. Terus saya cari tahu di media dan TV. Saya tidak kuat. Terus saya telepon kakaknya,” tuturnya.
Insiden hilang kontak ini melanda total delapan orang dalam rombongan peliputan erupsi Gunung Anak Krakatau di perairan Banten, yang terdiri dari lima orang jurnalis dan tiga awak kapal. Operasi penyisiran skala besar oleh tim SAR gabungan terus diintensifkan demi menemukan keberadaan seluruh korban.




















































