MAGELANG, suaramerdekakedu.com – Dinas Perpustakaan dan Kearsipan (Disperpusip) Kota Magelang terus berkomitmen meningkatkan minat baca masyarakat melalui layanan perpustakaan konvensional dan digital. Salah satu wujud nyata ini adalah hadirnya aplikasi perpustakaan digital bernama iMagelang yang sudah ada sejak tahun 2017.
Pustakawan Ahli Muda Dispusip Kota Magelang, Leny Adriana Mesah, S.STP, menjelaskan bahwa latar belakang hadirnya iMagelang yaitu untuk mengikuti zaman digitalisasi agar tidak ketinggalan. Keputusan ini diambil melihat kalangan generasi milenial serta Gen Z kini lebih terbiasa beralih ke digital.
“Latar belakangnya itu kan perpustakaan ini kan udah semakin maju ya. Bukan cuma secara konvensional saja, tapi juga secara digital. Nah, kalau kita enggak mengikuti zaman kan juga nanti ketinggalan ya,” ujar Leny saat ditemui di tempat (04/09).
Melalui iMagelang, masyarakat dapat mengakses buku digital selama 24 jam penuh tanpa biaya. Layanan digital iMagelang menyediakan beragam koleksi buku mulai dari ilmu komputer, sains sosial, geografi, agama, hingga karya sastra dan fiksi. Meskipun layanan perpustakaan digital hadir, kunjungan langsung ke perpustakaan konvensional tetap berada pada kondisi stabil.
Perpustakaan Kota Magelang juga memiliki program Wisata Literasi. Program ini mengajak siswa sekolah untuk mengenal dan memanfaatkan perpustakaan secara langsung. Awalnya pihak Dispusip yang aktif memberikan jadwal kunjungan ke beberapa sekolah, kini pihak sekolah secara mandiri mendaftarkan untuk berkunjung.
“Tahun 2013 kami membuat inovasi namanya Wisata Literasi. Nah itu dari sekolah-sekolah, tujuan kami biar anak-anak itu kan suka membaca. Dan itu kan harus kita kenalkan dari usia dini,” ungkapnya saat diwawancarai.
Pada tahun 2024, Perpustakaan Kota Magelang memiliki nilai IPLM dan TKM tertinggi di Provinsi Jawa Tengah. IPLM mencapai angka 100, sedangkan TKM berada diangka tertinggi yaitu 88,43. Di balik keberhasilan tersebut, Leny mengungkapkan tahun 2025 mengalami penurunan drastis pada penilaian nasional untuk Tingkat Kegemaran Membaca (TKM) dan Indeks Pembangunan Literasi Masyarakat (IPLM). Hal ini disebabkan perubahan indikator penilaian yang menggabungkan seluruh keaktifan perpustakaan yang ada di wilayah Kota Magelang.
“Nah itu juga menjadi PR kami untuk gimana bisa merangkul mereka untuk bisa lebih aktif lagi sehingga nilai IPLM kita di Kota Magelang ini meningkat. Ya bertahap lah ya, enggak bisa langsung dari rendah langsung tinggi. Melalui bertahap, semoga bisa masuk sedang saja itu udah luar biasa. Nanti setelah itu baru merangkak lagi entah berapa tahun ke depan bisa sampai tinggi lagi,” imbuhnya.













































