
MAGELANG, suaramerdekakedu.com — Program Makan Bergizi Gratis (MBG) yang ditujukan bagi para siswa sekolah memicu dampak turunan terhadap rantai ekonomi pedagang kecil. Sejumlah pedagang jajanan di wilayah Kota Magelang mengeluhkan penurunan omzet secara signifikan sejak program nasional tersebut resmi berjalan.
Kelompok siswa sekolah yang selama ini menjadi segmen konsumen utama para pedagang jalanan, kini semakin jarang membelanjakan uang saku mereka untuk membeli makanan ringan.
Salah seorang pedagang cilok yang kerap mangkal di area depan RSI Magelang, David, mengungkapkan bahwa efektivitas program MBG sangat memengaruhi volume penjualan hariannya. Pedagang yang telah menggantungkan hidupnya dari berjualan cilok selama enam tahun tersebut merasakan perubahan perilaku konsumen sekolah yang cukup drastis.
Jika sebelum program berjalan para siswa rajin menghampiri lapaknya, saat ini mayoritas murid hanya melintas tanpa melakukan transaksi.
“Biasanya anak-anak sekolah pada jajan, sekarang cuma kadang lewat aja. Nyamperin aja kadang enggak,” ujarnya.
Kondisi tersebut berdampak langsung pada pendapatan bersih harian. David membeberkan bahwa sebelum ada program MBG, dirinya mampu mengantongi omzet harian berkisar antara Rp50.000 hingga Rp100.000. Namun belakangan ini, untuk sekadar menyentuh angka Rp30.000 hingga Rp50.000 saja membutuhkan usaha ekstra.
Fenomena serupa dialami oleh Yayat, pedagang cilok asal Ciamis, Jawa Barat, yang telah mengadu nasib di Kota Magelang sejak 2022. Sebelum program MBG bergulir, Yayat menggantungkan pemasarannya dengan menjajakan dagangan di gerbang sejumlah sekolah, seperti SMP 3, SMP 5, dan SD 4.
Menurut Yayat, tingkat penjualan di kawasan sekolah merosot tajam. Pada kurun waktu sebelumnya, ia biasa mengantongi omzet rata-rata Rp50.000 hingga Rp60.000 sekali mangkal di area sekolah. Saat ini, pendapatan dari hasil mangkal di lokasi yang sama sering kali hanya menyisakan angka Rp5.000 hingga Rp10.000.
“Semenjak ada MBG kan lah istilahnya omzet menurun. Jadi sekarang anak-anak ngga pada jajan. Ya paling ada satu dua lah. ” ujarnya.
Dampak penurunan daya beli siswa memaksa para pelaku usaha mikro ini mengubah strategi bertahan hidup. Yayat dan beberapa rekan sejawatnya yang semula mengandalkan ekosistem sekolah kini memilih hengkang dan mencari kantong-kantong keramaian baru di tempat umum, seperti di RSI Magelang dan SPBU di Kota Magelang.
Yayat berharap ada perhatian serta solusi konkret dari pemerintah daerah maupun pusat. Ia menegaskan bahwa pemenuhan gizi anak-anak sekolah memang prioritas penting, namun keberlangsungan ekonomi rakyat kecil yang bergantung pada sektor informal juga tidak boleh diabaikan.













































