MAGELANG, suaramerdekakedu.com – Di kawasan Pecinan, Kota Magelang, Karyono duduk di trotoar. Dengan keterbatasan kakinya yang tidak bisa jalan, ia menunggu pelanggan di samping grobak sol sepatu. Baginya, pekerjaan itu ialah satu-satunya mata pencaharian untuk ia dan keluarga bisa makan.
Kakinya tidak dapat digunakan untuk berjalan sedari kecil, ia membawa tongkat kemanapun untuk membantunya berpindah tempat. Saat berangkat kerja, dia selalu diantar dari rumahnya di Nambangan oleh anaknya menggunakan motor.
“ini kan keahlian saya, kalau tidak dimanfaatkan buat apa, mau ngga kerja juga nanti keluarga makan pakai apa,” katanya.
Pekerjaannya sedari muda hanya tukang sol sepatu, tidak pernah mencoba kerjaan lain dikarenakan kondisi fisiknya yang memprihatinkan. Ia merasa hanya itu satu-satunya keahlian yang dimiliki.
“Saya sudah punya anak empat, cucu lima, mau menggantung ke anak kan mereka sudah berkeluarga. Misal saya ngga kerja juga ngga mau, mau ngapain bingung, sudah terbiasa kok,” ujarnya.

Meski setiap hari bekerja dan libur hanya saat tidak enak badan, penghasilan yang didapatkan tidak menentu.
“Pelanggan ya kadang-kadang, datang dua atau tiga hari sekali, pernah juga seminggu itu sepi tidak ada yang datang,” tuturnya.
Setiap hari Karyono berada di trotoar depan KFC mulai dari pukul delapan hingga pukul tiga atau empat, saat merasa tidak enak badan barulah ia meliburkan diri.
Karyono menuturkan ia pernah diusir oleh satpol pp, tetapi ia tegas mengatakan jika dirinya tidak takut karena tidak mencuri dan melakukan kejahatan.
Meski banyak memiliki hambatan, Karyono tetap menikmati pekerjaannya. Ia Bahagia jika masih bisa bekerja dan memberi makan keluarganya.














































