BANTEN, suaramerdekakedu.com – Kejadian runtuhnya Gunung Anak Krakatau pada tahun 2018 tidak hanya mengubah bentuk fisik gunung, tetapi juga berdampak pada sistem erupsinya. Sebagian dari struktur gunung yang jatuh ke dalam laut menyebabkan penurunan tekanan di jalur magma, dan bagian kawah menjadi lebih terbuka. Peristiwa ini kemudian diikuti dengan aktivitas erupsi yang kembali membentuk struktur gunung tersebut. Peneliti dari Pusat Riset Kebencanaan Geologi BRIN, Dini Nurfiani, menyatakan bahwa perubahan ini merupakan suatu bagian dari siklus alamiah Anak Krakatau.
“Sejarah erupsi Anak Krakatau menunjukkan bahwa gunung ini berkembang melalui siklus pertumbuhan, erupsi, keruntuhan, dan pemulihan. Setelah kejatuhan di tahun 2018, morfologi dan cara erupsinya berubah secara signifikan, dan diikuti oleh fase pertumbuhan baru melalui erupsi dan pembentukan lava yang baru,” ucap Dini dikutip dari Viva.
Kejadian runtuhnya pada tahun 2018 merupakan salah satu peristiwa signifikan dalam sejarah modern Anak Krakatau. Bagian barat daya gunung mengalami runtuh ke laut dengan volume material yang diduga mencapai sekitar 0,116 kilometer kubik. Sebagian besar dari struktur gunung yang sebelumnya berada di atas permukaan laut lenyap akibat insiden tersebut. Ketinggian puncaknya juga turun dari sekitar 330 meter menjadi sekitar 120 meter. Kejadian runtuh ini pun memicu terjadinya tsunami di wilayah Selat Sunda.
Perubahan yang terjadi pada bentuk Anak Krakatau berkontribusi pada situasi sistem erupsi gunung tersebut. Kehilangan sebagian besar massa gunung secara mendadak mengurangi tekanan di dalam saluran magma. Pada saat yang bersamaan, air laut dapat mengalir masuk ke area kawah yang terbuka. Situasi ini mengakibatkan karakter aktivitas erupsi pasca 2018 berbeda dari yang terjadi sebelum keruntuhan.
“Perbandingan morfologi sebelum dan sesudah bencana 2018 menunjukkan transformasi yang besar. Bentuk kerucut yang sebelumnya tinggi kini beralih menjadi morfologi yang lebih rendah dan terbuka, dan secara perlahan dibangun kembali melalui aktivitas erupsi berikutnya,” jelas Dini dilansir dari Viva.
Beberapa lembaga, termasuk BRIN dan PVMBG, masih melaksanakan penelitian mengenai transformasi yang terjadi pada Anak Krakatau. Penelitian ini juga melibatkan University of Birmingham, ITB, Penn State University, British Geological Survey, dan University of Oxford. Kajian tersebut dilakukan untuk memperoleh pemahaman tentang perubahan morfologi dan aktivitas erupsi dari gunung tersebut. Diharapkan hasil penelitian ini dapat menyajikan gambaran yang lebih komprehensif tentang proses transformasi Anak Krakatau setelah runtuhan tahun 2018.

























































