JAKARTA, suaramerdekakedu.com – Komisi VI DPR RI telah memberikan lampu hijau untuk rencana PT Kereta Api Indonesia (Persero) atau KAI dalam mengimpor rangkaian Kereta Rel Listrik (KRL) bekas demi memenuhi kebutuhan kapasitas transportasi di Jabodetabek. Persetujuan ini disampaikan dalam Rapat Dengar Pendapat (RDP) Komisi VI DPR RI bersama KAI di Kompleks Parlemen, Jakarta, pada hari Rabu (23/9). Pengadaan rangkaian yang telah digunakan ini dianggap sebagai langkah transisi yang tepat di tengah permintaan armada KRL yang kian meningkat. Di sisi lain, KAI terus didorong untuk memperkuat sektor perkeretaapian di dalam negeri.
Wakil Ketua Komisi VI DPR RI, Andre Rosiade, menyatakan bahwa untuk memenuhi kapasitas transportasi kereta api, khususnya KRL di Jabodetabek, upaya harus dilakukan sembari fokus pada pengembangan industri domestik. Kesimpulan ini mencakup rencana untuk mengimpor rangkaian kereta bekas yang bersifat terintegrasi dan berkelanjutan. Kebijakan ini ditujukan untuk merespons permintaan terhadap layanan KRL yang semakin meningkat. Persetujuan ini jadi landasan bagi KAI untuk menambah armada melalui metode pengadaan rangkaian kereta yang bukan baru.
“Memenuhi kebutuhan kapasitas transportasi kereta api, terutama untuk KRL Jabodetabek, dengan cara meningkatkan industri lokal, dan melakukan impor rangkaian kereta yang bukan baru secara terintegrasi dan berkelanjutan,” kata Andre dalam RDP dengan KAI di kompleks parlemen, Jakarta, pada Rabu (23/9) dikutip dari Detik Finance.
Perusahaan memerlukan tambahan sebanyak 23 trainset bekas untuk memenuhi layanan penumpang. Jumlah tersebut terdiri dari tujuh trainset dengan formasi 12 kereta atau SF12 dan 16 trainset dengan formasi delapan kereta atau SF8. Penggunaan kedua formasi yang berbeda tersebut disesuaikan dengan kondisi infrastruktur di masing-masing jalur. KAI berpendapat bahwa penyesuaian ini penting agar armada tambahan dapat dimanfaatkan secara maksimal.
Jumlah yang diajukan untuk penghubung ini, kereta yang sudah tidak baru lagi, adalah tujuh rangkaian kereta dengan SF12. Ditambah lagi dengan enam belas rangkaian kereta menggunakan SF8, kata Bobby. Rencana ini disusun untuk memenuhi kebutuhan sementara atau penghubung guna menambah kapasitas layanan KRL di Jabodetabek.
“Contohnya, jalur loop yang dari Tanjung Priok ke Kota itu peronnya terbilang pendek. Jadi saat kita menggunakan SF12 tidak optimal. Inilah alasan kami mengusulkan tujuh SF12 dan enam belas SF8,” lanjut Bobby dilansir dari Detik Finance.
Pengadaan KRL yang tidak baru ini ditempatkan sebagai langkah sementara sambil menunggu peningkatan kapasitas industri kereta api di dalam negeri. KAI dan INKA sebelumnya juga sedang melakukan pemeliharaan terhadap tujuh rangkaian KRL iE305/CLI 225 untuk mendukung operasi Commuter Line di Jabodetabek. KAI menjelaskan bahwa proses pemeliharaan ini dilakukan dengan memperhatikan aspek keselamatan dan keandalan sarana.


























































