MAGELANG, suaramerdekakedu.com — Kota Magelang menyimpan berbagai peninggalan bersejarah yang unik, salah satunya adalah infrastruktur saluran air yang dikenal masyarakat sebagai “Plengkung”. Bangunan ikonik ini dibangun pada masa pemerintahan Hindia Belanda sebagai bagian dari sistem tata kelola air untuk mendukung kawasan militer serta menjaga kualitas lingkungan kota.
Pembangunan plengkung berawal dari pembuatan kanal air yang bersumber dari Sungai Progo dan Kali Elo. Kanal tersebut dirancang untuk menjaga lingkungan Kota Magelang agar tetap sejuk, sehat, sekaligus memenuhi kebutuhan air di kawasan militer. Saat saluran air tersebut bersimpangan dengan jalan raya, pemerintah kolonial membangun struktur melengkung yang memungkinkan aliran air tetap berjalan di bagian atas, sementara bagian bawahnya dimanfaatkan sebagai jalan bagi lalu lintas kendaraan dan warga.
Di Kota Magelang sendiri terdapat tiga titik plengkung yang memiliki nilai sejarah tinggi. Salah satunya adalah Plengkung Lama di Jalan Pierre Tendean yang dibangun pada tahun 1883, plengkung yang berada di Jalan Daha, serta plengkung di Jalan Ade Irma Suryani yang didirikan pada tahun 1920. Ketiga infrastruktur ini menjadi ciri khas arsitektur kota yang terbilang jarang ditemukan di daerah lain.
Keunikan struktur ini juga dirasakan langsung oleh masyarakat setempat. Dinda, salah seorang warga lokal, mengungkapkan kesannya terhadap keberadaan tempat bersejarah ini.
“Plengkung ini unik banget karena di atasnya ada air yang mengalir, tapi di bawahnya bisa dilewati jalan. Suasana di sekitarnya juga adem, makanya saya kadang suka nongkrong di sepanjang jalan dekat plengkung ini,” ujarnya.
Keberadaan plengkung yang masih kokoh dan berfungsi hingga hari ini memperlihatkan bagaimana sistem tata kota dan teknologi masa lalu mampu bertahan melintasi zaman. Peninggalan ini sekaligus menjadi salah satu kekayaan sejarah dan ruang publik yang menarik bagi masyarakat maupun mahasiswa di Kota Magelang.



























































