
MAGELANG, suaramerdekakedu∞φ.com – Menapaki usia 84 tahun, Sunaryati masih menghabiskan hari-harinya di lapak sederhana untuk berjualan. Ia menjajakan lotek, lotis, bakmi, gorengan ayam, kerupuk, dan sejumlah makanan lainnya.
Hasil jualan tersebut menjadi tumpuan Sunaryati untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari sekaligus menghidupi lima cucunya yang diasuhnya. Tiga di antaranya merupakan anak dari anak laki-lakinya yang telah meninggal dunia, sementara dua lainnya diasuh karena orang tuanya tidak mampu.
“Padahal saya ini nyariin makan anak yatim tiga, cucu yang dua, jadi ada 5 anak,” ujarnya.
Perjuangan itu tidak selalu berjalan mudah. Sunaryati mengaku pernah berjualan tanpa mendapatkan pembeli hingga tiga hari. Dalam sehari, dagangannya terkadang hanya laku dua atau tiga bungkus. Kondisi tersebut membuatnya kesulitan mendapatkan uang untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari dan cucu-cucunya.
Keadaan itu perlahan berubah setelah aktivitas jualan Sunaryati diliput dan videonya beredar. Sejak saat itu, dagangannya mulai lebih dikenal dan pembeli pun berdatangan.
“Sekarang sudah disyuting, saya laku terus,” ujarnya.
Setelah videonya beredar, bantuan juga mulai datang untuk Sunaryati. Dari donasi yang terkumpul, sebagian digunakan untuk memenuhi berbagai kebutuhan, seperti beras, minyak, gula, pakaian, sepatu, hingga perlengkapan sekolah untuk cucu-cucunya. Sementara sebagian lainnya diberikan langsung kepada Sunaryati.
Uang yang diterimanya kemudian dimanfaatkan untuk memperbaiki gerobaknya sekaligus menambah jenis dagangan. Jika sebelumnya hanya menyediakan lotek dan lotis, kini ia juga menjual bakmi, ayam goreng, kerupuk, dan makanan lainnya.
Perubahan tersebut turut dirasakan dari pendapatannya. Sebelum dagangannya diliput, Sunaryati mengatakan dalam sehari terkadang hanya memperoleh sekitar Rp21.000 dari tiga bungkus dagangan. Setelah videonya beredar dan pembeli mulai berdatangan, pendapatannya meningkat. Ia mengaku pernah mendapatkan Rp75.000 dalam sehari.
Bagi Sunaryati, perhatian yang diterimanya menjadi hal yang begitu berarti. Rasa syukur itu membuatnya tak kuasa menahan tangis karena merasa banyak orang yang masih peduli kepadanya.
“Terus nangis terus saking senenge, saking alhamdulillah diberi apa-apa, nangis terus,” ucapnya.






















































