MAGELANG, suaramerdekakedu.com – Berawal dari sekadar keisengan saat menyambut tradisi Ruwahan sekitar lima tahun yang lalu, usaha kue apem tradisional bernuansa jadul kini tumbuh menjadi salah satu hidangan favorit yang dicari banyak orang. Kudapan manis-gurih ini awalnya diproduksi saat warga lokal sibuk menyiapkan hantaran tradisi berupa ketan, kolak, dan apem. Respons positif dari para tetangga dan kerabat yang mencicipinya kemudian mendorong niat sang pemilik untuk memberanikan diri membuka usaha “Apem Djadhoel Girly” secara berkelanjutan.
“Awalnya itu cuma iseng aja. Kan kalau pas tradisi Ruwahan itu sering pada bikin ketan, kolak, apem jadi satu paket. Terus ada yang bilang ‘Mbok coba jualan’. Gitu, terus ya alhamdulilah berkembang,” ujar Lia selaku pemilik usaha, Jumat (25/9).
Cita rasa yang unik apem jadul ini terletak pada perpaduan adonan resep warisan keluarga yang dipadukan dengan modifikasi mandiri. Penggunaan bahan berkualitas seperti tepung beras, gula, santan, serta parutan kelapa muda segar memberikan sensasi rasa gurih yang menonjol dan tidak pahit ataupun kecut dibandingkan kue apem pada umumnya. Kelezatan alami ini dipadu dengan penyajian tradisional berbungkus daun yang mempertahankan aroma autentik dan kesan hidden gem jajanan pasar.
“Mungkin dari ciri khasnya yang gurih dari kelapa muda ya. Ada ciri khasnya itu rasa-rasa gurih begitu, campuran kelapa muda,” jelas Lia mengenai rahasia kelezatan produk buatannya.
Selain menawarkan rasa original, usaha ini juga melayani permintaan pembeli dengan aneka opsi topping seperti kismis, pisang, nangka, hingga buah durian.
Pada masa-masa awal berdiri, promosi usaha ini banyak dibantu oleh Ketua RW setempat yang memiliki jejaring luas di bidang penyelenggara acara (event organizer) dan wedding organizer. Seiring berjalannya waktu, kepopuleran apem jadul ini makin melonjak berkat ulasan para kreator konten di media sosial seperti Tiktok. Keberadaan konten video tersebut membuat apem ini kini banyak diminati oleh berbagai kalangan masyarakat, mulai dari ibu-ibu hingga anak muda.
Sistem produksinya sendiri dilakukan secara alami menggunakan cetakan tangan oleh tiga orang anggota keluarga. Karena dibuat secara manual, kapasitas produksi harian dihitung berdasarkan berat bahan baku tepung. Dalam sehari, produksi minimal mencapai 8 kilogram tepung dan dapat meningkat hingga 12 kilogram saat pesanan ramai. Bahkan menjelang tradisi Ruwahan, produksi bisa melonjak drastis melebihi 30 kilogram seiring bertambahnya tenaga bantu.
“Kalau per pcs-nya kita tidak bisa ngitung, Mbak. Soalnya kan cetakan tangan kadang tidak mesti sama. Kita hitungnya per kilo, minimnya itu 8 kilo. Kalau Ruwahan itu malah sampai 30-an kilo lebih,” tuturnya.
Lapak Apem Djadhoel Girly yang beroperasi sejak pukul 06.30 WIB ini tidak hanya melayani pembeli lokal dari wilayah Magelang dan sekitarnya seperti Muntilan, Mertoyudan, dan Blabak. Pembeli dari luar kota seperti Temanggung dan Wonosobo pun rela datang langsung ke lokasi. Bahkan, tidak sedikit pelanggan yang memesan apem tradisional berbahan alami ini sebagai oleh-oleh khusus untuk dibawa hingga ke Jakarta dan Bali.
Meskipun harus menghadapi dinamika pasang surut penjualan, keberadaan kompetitor kue apem terbilang minim karena langkanya penjual apem tradisional berkarakter gurih di pasaran. Ke depannya, Lia berharap usaha apem jadul berbahan tradisional miliknya terus berkembang pesat, memiliki identitas visual logo yang kuat, dan makin dicintai oleh seluruh masyarakat luas.






















































