
- MAGELANG, kedu.suaramerdekakedu.com – Upaya meramaikan kembali Pasar Cepit melalui kegiatan Pasar Cepit Jadoel belum mampu membuat aktivitas jual beli bertahan ramai. Pasar yang sempat dipadati pengunjung saat kegiatan jajanan tempo dulu pada Februari 2026 itu kini kembali sepi. Berdasarkan pantauan saat peliputan, tersisa enam pedagang yang masih berjualan, meski beberapa di antaranya sudah jarang membuka lapak.
Pasar Cepit di Kelurahan Magelang memiliki sejarah panjang sejak dipindahkan ke belakang kantor kelurahan pada 1977. Seiring waktu, aktivitas jual beli di pasar tersebut semakin meredup hingga jumlah pedagang terus berkurang. Kondisi itu mendorong warga bersama Lembaga Pemberdayaan Masyarakat (LPM) Kelurahan Magelang untuk menghidupkan kembali suasana pasar melalui kegiatan Pasar Cepit Jadoel.
Kegiatan yang dimulai pada 6 Februari 2026 tersebut menghadirkan beragam jajanan tradisional hasil kreasi warga. Selain menjadi upaya melestarikan kuliner tempo dulu, kegiatan itu diharapkan mampu menarik pengunjung dan menggerakkan perekonomian masyarakat setempat.
Namun, keramaian yang muncul saat kegiatan tersebut tidak bertahan lama. Sukristati, pedagang yang telah berjualan selama 15 tahun di Pasar Cepit, mengatakan pasar sempat ramai ketika pedagang menjajakan makanan untuk berbuka puasa.
“Ya itu, ya biar ramai pikirnya, dibuat pasar jadul saja, makanan-makanan jadul itu. Tapi ramainya mau puasa itu loh, buat jualan buka, takjil gitu. Tapi habis takjil ya sudah, ndak, sepi ya,” ujarnya.
Menurut Sukristati, kegiatan tersebut memang sempat menarik pembeli, terutama saat Ramadan. Namun, hasil penjualan yang diperoleh belum cukup menguntungkan bagi pedagang. Harga bahan baku yang tinggi membuat mereka kesulitan menjual makanan tradisional dengan harga murah, sehingga berjualan di Pasar Cepit tidak selalu memberikan hasil yang sepadan.
Setelah kegiatan Pasar Cepit Jadoel berakhir, aktivitas jual beli di pasar tersebut kembali sepi. Sukristati mengaku pendapatannya dari berjualan di Pasar Cepit berkisar Rp10.000 hingga Rp15.000. Untuk menyiasati sepinya pembeli, ketika siang hari Sukristati berjualan keliling agar bisa memperoleh hasil penjualan yang lebih banyak.
Sementara itu, Mariyati, pedagang sayuran dan buah yang telah berjualan di Pasar Cepit sejak 1977, mengatakan pasar mulai sepi bahkan sebelum pandemi Covid-19. Dahulu pasar tersebut dipenuhi pedagang yang menjual beragam kebutuhan, mulai dari sayuran, ayam, ikan, hingga makanan tradisional. Kini, banyak lapak kosong setelah pedagang lama meninggal dunia.
“Sing jualan dulu banyak, ning udah meninggal semua. Anak-anaknya ngga ada ,” ujarnya.
Meski kondisi pasar semakin sepi, Mariyati memilih tetap bertahan di Pasar Cepit karena telah memiliki pelanggan tetap. Ia enggan berpindah tempat berjualan dan harus mencari pelanggan baru dari awal.
“Soale langganan iki ya susah, angel e,” katanya.
Kembali redupnya Pasar Cepit menunjukkan perlunya pembenahan dari pemerintah setempat. Dengan demikian, keramaian pasar tidak hanya muncul saat kegiatan Pasar Cepit Jadoel, tetapi juga berlanjut dalam aktivitas perdagangan sehari-hari.













































