
MAGELANG, kedu.suaramerdekakedu.com – Penataan area kuliner Pasar Rejowinangun, Kota Magelang, menjadi sorotan para pedagang. Lokasi yang berada di sudut pasar serta keberadaan tempat sampah di dekat area makan dinilai menjadi kendala yang perlu mendapat perhatian Pemerintah Kota Magelang.
Khalifah, pedagang yang telah berjualan sejak 1991, mengatakan jumlah pembeli terus mengalami penurunan sejak pandemi Covid-19. Kondisi itu terlihat dari jumlah beras yang digunakan untuk berjualan setiap hari. Jika sebelumnya 10 kilogram beras bisa habis dalam sehari, kini dua hingga tiga kilogram terkadang masih tersisa.
Menurut Khalifah, salah satu persoalan yang perlu dibenahi adalah posisi area kuliner yang kurang strategis. Ia menilai area kuliner seharusnya berada di bagian tengah agar lebih mudah dijangkau dan diketahui para pengunjung pasar.
“Ini terpelosok, belum strategis. Minimal nek apa kuliner matengane itu di tengah, toh? Di tengah di pojok sana apa pojok sana, tengah-tengah. Ini kan terlalu pojok. Terlalu tersembunyi”, ujarnya saat diwawancarai.
Khalifah juga mengeluhkan tempat sampah yang berdekatan dengan area makan. Bau yang ditimbulkan mengganggu kenyamanan sehingga para pengunjung enggan untuk mengunjungi dan mencicipi Kuliner Pasar Rejowinangun.
“Pengunjung njuk banyak yang komplain kulinere kok bau sampah”, ujarnya.
Di sisi lain, Eni, pedagang yang telah berjualan selama sekitar lima tahun, mengaku kondisi area kuliner yang berada di ujung pasar dan minim pencahayaan membuat pembeli enggan masuk. Untuk mensiasati hal tersebut, Eny mengandalkan pesanan melalui WhatsApp dan layanan pesan antar.
“Ya orang pasar, tapi kita via WA pesan, nanti kita ngantar, gitu. Nek nunggu yang dari sini ya sepi,” ujarnya.
Eni berharap area kuliner Pasar Rejowinangun mendapat perhatian lebih, terutama melalui penataan dan promosi agar pengunjung tertarik masuk dan membeli dagangan para pedagang.













































