
MAGELANG, suaramerdekakedu.com – Kenaikan harga kedelai tak serta-merta membuat pedagang tempe dan tahu di Pasar Rejowinangun, Kota Magelang, menaikkan harga jual. Di tengah penjualan yang kian lesu, mereka memilih menanggung kenaikan biaya bahan baku daripada mengambil risiko kehilangan pembeli.
Aminah, pedagang tempe dan tahu yang telah berjualan selama 14 tahun di pasar tersebut, mengaku omzetnya merosot sejak September. Kondisi itu membuatnya belum berani mengerek harga jual. Terlebih, para pedagang lain masih mempertahankan harga masing-masing sehingga tidak memungkinkan untuk menaikkan harga seorang diri.
“Kita kan enggak bisa naikkin sendiri, soalnya kalau yang lain enggak kompak untuk menaikkan, kita enggak bisa menaikkan harga,” ujarnya.
Di tengah tekanan harga bahan baku, Aminah berharap ketergantungan terhadap kedelai impor dapat dikurangi melalui penguatan produksi dalam negeri. Menurutnya, pemenuhan kebutuhan kedelai dari hasil produksi lokal diharapkan dapat menekan harga bahan baku yang selama ini membebani pelaku usaha.
Situasi tak jauh berbeda dialami Imronah, pedagang yang telah menggeluti usaha tempe dan tahu selama lebih dari 15 tahun. Meski harga kedelai naik, ia tetap mempertahankan harga jual dagangannya. Tempe dan tahu dijual dengan harga beragam, mulai Rp 3.000 hingga Rp 8.000, bergantung pada ukuran dan jenisnya.
Bagi Imronah, menaikkan harga di tengah penjualan yang sepi justru berisiko mempersempit jumlah pembeli. Ia khawatir harga yang lebih tinggi membuat pelanggan semakin enggan berbelanja, sementara penjualan saat ini pun belum menunjukkan peningkatan.
“Enggak kuat, Mbak. Mau dinaikkan, yang beli enggak mau. Agak sepi jualannya,” ujarnya.
Melemahnya daya beli juga dilihat dari perubahan pola belanja pelanggan. Pedagang keliling yang biasa kulakan tempe dan tahu untuk dijual kembali kini mengurangi jumlah pembelian. Bahkan, pelanggan yang sebelumnya membeli dua bungkus mulai membatasi belanja menjadi satu bungkus.
Pedagang berharap gejolak harga kedelai segera mereda dan daya beli masyarakat kembali menguat. Di tengah biaya produksi yang kian membengkak, mereka harus berupaya menjaga usahanya tetap berjalan tanpa kehilangan pelanggan. Sebab, menaikkan harga bukan perkara mudah ketika pembeli mulai berhemat dan penjualan terus melesu.













































