MAGELANG, suaramerdekakedu.com – Tren berburu pakaian bekas berkualitas atau thrifting kini bukan sekadar alternatif belanja, melainkan sudah menjadi bagian dari gaya hidup dan identitas anak muda, khususnya Gen Z. Dibandingkan membeli pakaian baru di fast fashion atau mal, anak muda saat ini lebih memilih baju thrift karena menawarkan model yang unik, lebih mengekspresikan kepribadian, serta harga yang jauh lebih ramah di kantong. Fenomena pergeseran tren gaya hidup ini menginspirasi para pelaku usaha, salah satunya Lestari Thriftshop asal Magelang.
Farhan, staf dari Lestari Thriftshop, menceritakan awal mula toko tersebut ikut beralih melayani tingginya minat para anak muda terhadap pakaian bekas.
“Mengapa kita jualan thrift, karena sebelumnya toko-toko kita juga berjualan pakaian baru dan mulai 2021 kita berubah menjadi thrift,” kata Farhan, Rabu (7/10).
Farhan menambahkan bahwa keputusan tersebut diambil untuk mengikuti perkembangan tren busana anak muda yang sedang melonjak.
Mungkin ingin mencoba terobosan baru ya, Kak. Di era 2021 kan thrift lagi naik-naiknya nih, makanya kita mencoba barang thrift untuk dijual,” ujarnya.
Langkah tersebut terbukti tepat karena antusiasme pembeli anak muda yang terus meningkat hingga toko ini berhasil membuka beberapa cabang seperti di Magelang, Jogja, Semarang, dan Bali.
Dari sudut pandang Gen Z, faktor ekonomi dan fleksibilitas gaya menjadi alasan utama mengapa thrifting begitu membudaya. Nia, seorang konsumen Gen Z, menceritakan alasannya lebih mantap memilih baju bekas berkualitas untuk menunjang penampilan sehari-hari.
“Kalau semisal kayak gitu mungkin lagi menyesuaikan budget aja ya, karena kalau thrift itu kan harganya lebih murah dan ramah di kantong,” kata Nia.
Selain pertimbangan finansial, Nia merasa koleksi pakaian thrift mempunyai nilai estetika tersendiri dan keunikan gaya busana (fashion style) yang sulit ditemukan pada pakaian baru pabrikan.
“Dan juga alasan lainnya sih sebenarnya karena kadang di thrift itu lebih lucu buat style-nya gitu ya, lebih lucu modelnya daripada baju-baju baru,” ujarnya.
Gaya hidup thrifting yang memadukan tren fashion, keunikan gaya, dan efisiensi pengeluaran ini diprediksi tidak akan redup dalam waktu dekat. Nia meyakini budaya belanja pakaian thrift di kalangan anak muda akan terus bertahan lama.


























































