MAGELANG, suaramerdekakedu.com – Langkah digitalisasi pelaku Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) terus digalakkan Pemerintah Kabupaten Magelang melalui program Gerakan Blonjo Warung Tonggo (BWT). Mendorong kemandirian ekonomi daerah, program ini mengimbau para Aparatur Sipil Negara (ASN) untuk memprioritaskan belanja di warung-warung tetangga sekitar dengan memanfaatkan sistem pembayaran digital berbasis QRIS (Quick Response Code Indonesian Standard).
Program yang diluncurkan sejak pertengahan Mei lalu ini menargetkan penguatan ekonomi berbasis komunitas, khususnya di wilayah Kelurahan Sawitan, Deyangan, dan Mendut. Kehadiran pembayaran non tunai yang bekerjasama dengan Bank Bapas Magelang tersebut dinilai memberikan warna baru bagi aktivitas transaksi harian para pelaku usaha kecil, mulai dari pemilik warung makan hingga pedagang kaki lima.
Sofiyati pemilik Warung Makan Mbak Sofi di Jalan Soekarno-Hatta, Ngentak Sawitan, mengungkapkan bahwa kehadiran pembayaran digital QRIS memberikan kemudahan praktis bagi para pelanggannya, terutama yang berasal dari kalangan ASN perkantoran sekitar.
“Kalau sekarang kan pakai QRIS itu, ya dampaknya lebih praktis bagi pelanggan. Tidak ada problem apa-apa, berjalan lancar gitu saja,” ujar Sofiyati.
Menurutnya, sebagian besar pelanggan yang datang makan di tempat merupakan ASN dari dinas-dinas terdekat seperti Pemda dan DPU.
Hal senada disampaikan oleh Sri Wahyuni, pengelola warung Mie Ayam dan Soto Bu Timah yang berlokasi di jalur utama Soekarno-Hatta. Ia menjelaskan bahwa keikutsertaannya dalam BWT mewakili orang tuanya, Siti Fatimah, lantaran keterbatasan akses teknologi usia senja. Sri mengapresiasi upaya pemerintah daerah yang merangsang daya beli masyarakat lokal di tengah ketidakpastian ekonomi saat ini.
“Mendinglah, karena kita juga harus mengikuti program dari Pak Bupati untuk menyukseskan itu. Karena ada Gerakan Blonjo Warung Tonggo, pelanggan yang tadinya tidak membawa uang tunai (cash) tetap bisa belanja pakai QRIS,” ungkap Sri Wahyuni. Ia menambahkan bahwa pergerakan transaksi digital dari ASN dan masyarakat umum setiap harinya selalu ada.
Kendati implementasi transaksi QRIS berjalan mulus dan minim kendala teknis, para pemilik usaha sepakat bahwa fasilitas penunjang perbankan masih perlu ditingkatkan. Masalah utama yang dirasakan pelaku usaha adalah ketersediaan fasilitas penarikan tunai yang saat ini masih belum tersedia.
“Kendalanya itu karena di Bank Bapas belum ada ATM. Jadi pengambilannya harus manual, datang langsung ke kantor bank dan itu memakan waktu. Aku mengambilnya tetap menunggu dalam jumlah banyak dulu baru dikumpulin,” tutur Sri Wahyuni.
Meski demikian, para pelaku UMKM mengapresiasi kemudahan prosedur pelayanan dari pihak bank serta berharap program pendampingan dari Pemerintah Kabupaten Magelang terus diperluas. Diharapkan perputaran uang tetap berputar di dalam wilayah Magelang guna menopang keberlanjutan usaha rakyat kecil.
“Semoga dengan adanya BWT QRIS ini bisa mendukung lebih baik program UMKM yang ada di Kabupaten Magelang. Jadi uang yang ada di Kabupaten Magelang tidak keluar ke mana-mana, bisa berputar untuk UMKM lokal,” harap Sri Wahyuni memungkasi.


























































