MAGELANG, suaramerdekakedu.com – Bagi para pecinta kuliner manis dan segar, nama Es Dawet Pak Min tentu sudah tidak asing lagi bagi warga Magelang. Dibalik kesuksesan merek usahanya, ada sosok pria gigih bernama Sri Tanto. Perjalanan kuliner legendaris ini dimulai dari kisah perjuangan yang penuh ketekunan. Akibat dampak krisis moneter dan gelombang PHK di akhir tahun 1990-an, Sri Tanto terpaksa memutar otak untuk bertahan hidup. Dari sanalah ia memutuskan untuk merintis usaha jualan es dawet dari nol sejak tahun 2000, mulai dari berjualan keliling hingga akhirnya mangkal di Jalan Kalingga, Rejowinangun Utara, Kota Magelang.
Daya tarik utama yang membuat Es Dawet Pak Min begitu diminati dan berbeda dari es dawet lainnya terletak pada resep racikan cendolnya. Jika es dawet pada umumnya menggunakan tepung beras dengan pewarna hijau dan hitam, Sri Tanto memilih berinovasi menggunakan bahan dasar tepung pati tapioka.
“Cendolnya kita lain daripada yang lain. Kalau lainnya kan warna hijau, hitam, terus dia pakainya bahan bakunya dari beras. Kalau dari saya dari tepung pati tapioka, jadi lebih kenyal,” jelas Sri Tanto.
Penggunaan tepung tapioka ini menghasilkan tekstur cendol yang jauh lebih kenyal dan lembut saat dikunyah. Tak hanya itu, bentuk cendolnya pun dibuat secara khas dengan ukuran yang lebih kecil dan halus dibanding cendol biasa.
“Punya saya kecil-kecil, bisa lembut gitu lah. Kalau yang lainnya kan agak kasar, besar-besar itu,” tambahnya.
Paduan cendol tapioka yang lembut dipadukan dengan manisnya kuah gula merah cair serta gurihnya santan segar menciptakan rasa harmoni sempurna yang memanjakan lidah. Berkat kepandaian Sri Tanto dalam meracik bahan serta mempertahankan rasa, kuliner ini mengalami lonjakan popularitas luar biasa dalam dua tahun terakhir setelah banyak pengunjung dan kreator konten mengulas kelezatan es dawetnya di media sosial. Sejak menjadi viral, pembeli dari kalangan anak-anak muda hingga orang tua berbondong-bondong datang untuk mencicipi langsung segarnya es dawet tersebut.
“Hampir 2 tahunan ini, habis viral itu baru ramai tuh. Ada ngonten terus kok banyak yang penasaran rasanya gimana. Wah memang enak… terus ke sini lagi, tambah pelanggan, tambah pelanggan, gitu terus,” ceritanya.
Meski kulinernya makin tenar dan berhasil menjual hingga 200 gelas setiap harinya, Sri Tanto tidak lantas menaikan harga. Ia tetap mematok harga yang sangat bersahabat di kantong, yakni Rp5.000 per gelas, harga tersebut yang terus ia pertahankan selama lebih dari satu dekade. Menurutnya, rahasia bertahan dalam usaha kuliner ini sederhana, yaitu terus berdoa, bekerja keras, serta menjaga konsistensi rasa agar pelanggan setia tidak pernah merasa kecewa.
Lapak Es Dawet Pak Min biasanya mulai melayani pembeli setiap hari dari pukul 10.00 WIB dan sering kali sudah ludes terjual pada pertengahan siang antara pukul 14.00 hingga 14.30 WIB.
Ke depannya, Sri Tanto menyimpan harapan besar untuk dapat terus mengembangkan usaha kulinernya ini, termasuk impian memiliki ruko sendiri agar dapat menambah porsi dagangan dan melayani lebih banyak pecinta es dawet setiap harinya.


























































