WONOSOBO, suaramerdekakedu.com – Audiensi dan sinergi pengembangan ekonomi lokal berbasis potensi pangan dilaksanakan di Pendopo belakang, Jumat (25/9), mengemukakan Pemerintah Kabupaten Wonosobo percepatan hiliriasi potensi pangan lokal melalui pengembangan opak singkong di Desa Cledok, Kecamatan Kaliwiro,
Sebagai kolaborasi antara pemerintah daerah, masyarakat, Politeknik ATMI Surakarta, dan FKS Group diarahkan untuk meningkatkan nilai tambah singkong sekaligus memperkuat ekonomu petani dan perajin lokal.
Bupati Wonosobo, Afif Nurhidayat mengatakan, pengembangan opak singkok di Cledok merupakan proses yang telah berlangsung cukup Panjang dan kini memasuki tahap penyelesaian persayaratan agar fasilitas produksi dapat segera beroperasi.
“Ini proses yang cukup lama dan panjang, sudahhampir satu tahun lebih. Ternyata masih dalam tahappenyelesaian izin dan lain-lain. Harapannya bulanNovember sudah bisa beroperasi, mengingat kitasudah memasuki musim penghujan,” ujar Afif.
Apresiasi oleh Bupati Wonosobo juga diberikan kepada pemerintah desa, FKS Group, dan Politeknik ATMI Surakarta yang bersama mengangkat potensi lokal Wonosobo.
Menurutnya keberlanjutan menjadi hal penting karena peningkatan produksi opak harus sejalan dengan kepastian pasar dan haraga yang mampu memberikan manfaat pagi petani
“Jangan sampai petaninya semangat, tetapi harga jualnya rendah,” tegasnya.
Ia berharap fasilitas produksi dapat berjalan awal 2027 dan memberikan contoh bagi desa – desa lain dalam pengembangan potensi ekonomi berbasis lokal.
VP of Corporate Communication and Sustainability FKS Group, Patris mengatakan inisiatif pengembangan opak berawal dari kunjungan tim R&D FKS ke Wonosobo melihat potensi opak sebagai produk pangan lokal yang luarbiasa.
“opaknya juga enak, tetapi banyak masyarkat yang belum mengenal opak Wonosobo,” tuturnya
Adanya kolaborasi FKS Group dengan ATMI Surakarta melalui program Bestari Saintek yang didukung LPDP dan Kemendiktisaintek. Pengembangan teknologi pangan tepat guna dari Politeknik ATMI, semantara FKS Group menyiapkan fasilitas produksi dan berkomitmen menjadi off-taker, sehingga produk yang dihasilkan memiliki jalur hilirisasi dan pemasaran.
Fasilitas produksi yang ditargetkan siap pada November 2026 oleh FKS Group di atas lahan milik Desa Cledok dengan nilai pembangunan fasilitas Rp.1 miliar, dan kebutuhan peratan produksi Rp.700 juta. Petris mengatakan kesinambungan produksi harus diimbangi dengan kemampuan petani menyediakan singkong secara konsisten.
Sementara itu, Kabag Perekonomian dan SDA Seta Wonosobo, Lintang Esti mengatakan Pemkab akan merespon berbagai kebutuhan yang masih harus dipenuhi seperti perizinan kelembagaan dan koperasi kerja sama dengan pemerintah desa, serta syarat pembangunan fasilitas.
Lintang mengatakan bagian Perekonomian dan SDA akan mengkoordinasikan perangkat daerah.
“Jangan sampai semuanya sudah ready, tetapiterkendala perizinan dan yang lainnya. Kami akansegera merespons supaya nanti tidak terlalu lama lagi,” ujarnya.


























































