MAGELANG, suaramerdekakedu.com – Fluktuasi harga komoditas pangan di pasaran seringkali menghadirkan cerita tersendiri bagi para pedagang kecil. Baru-baru ini, harga telur ayam mengalami penurunan yang cukup terasa dari harga normal berkisar Rp24.000 hingga Rp25.000 per kilogram menjadi Rp22.000 per kilogram.
Penurunan harga ini telah berlangsung kurang lebih selama satu pekan terakhir. Alih-alih mendatangkan kebahagiaan bagi konsumen dan mendongkrak penjualan, harga yang lebih murah ini justru dikeluhkan oleh para pedagang karena membuat suasana lapak menjadi lebih sepi. Seperti yang diungkapkan oleh salah seorang pedagang telur di Pasar Rejowinangun, Indah Juli Intani, penurunan harga tersebut membawa dampak langsung terhadap tingkat kunjungan pembeli.
“Pengaruh. Ya, ini malah nek harga murah malah sepi. Biasane njuk banyak pedagang sing jualan to. Mungkin dari pihak kandange juga ngecer sendiri atau gimana gitu, banyak stoke,”ungkap Indah saat menjelaskan alasan mengapa harga yang lebih murah justru tidak mendatangkan lebih banyak pembeli ke lapaknya, Senin (19/10).
Menurut penuturan Indah, kondisi sepi ini dipicu oleh banyaknya pedagang lain yang turut terjun berjualan serta pihak kandang yang langsung memasarkan telur secara eceran dengan ketersediaan stok yang melimpah. Di sisi lain, para peternak menghadapi tantangan besar akibat mahalnya harga pakan ayam yang tidak sebanding dengan biaya operasional yang dikeluarkan. Hal tersebut membuat sebagian peternak terpaksa mengurangi produksi atau mengalami kendala biaya.
Situasi pasar semakin tidak menentu sejak kemunculan program Makan Bergizi Gratis (MBG) serta masuknya pasokan telur berukuran kecil dari pihak kandang yang dinilai ikut merusak kestabilan harga pasaran. Melihat kondisi yang kurang menguntungkan ini, para pedagang tentu berharap adanya perbaikan situasi ekonomi di tingkat pasaran. Indah secara terbuka menyampaikan keinginan dan harapannya agar roda usahanya bisa kembali berputar lancar.
“Paling tetep kepingine ya rame, laris, teross hargane dinormalke aja gitu. (Harga normalnya) 24, 25 gitu-gitu aja,”papar Indah sambil menegaskan harapannya agar harga telur dapat kembali stabil pada kisaran normal Rp24.000 hingga Rp25.000 per kilogram demi keseimbangan antara pedagang, peternak, dan pembeli.
























































