WONOSOBO, suaramerdekakedu.com – Penanganan kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di lereng Gunung Sumbing semakin intensif. Selain memprioritaskan titik api agar tidak menjalar ke pemukiman warga, Polda Jateng mendorong penetapan status tanggap darurat serta menyiapkan opsi pemadaman udara (water bombing) untuk menjangkau medan ekstrim.
Kapolda Jawa Tengah Irjen Pol Roy Hardi Siahaan saat meninjau lokasi kebakaran, Rabu(21/10) menyampaikan bahwa personel gabungan terus berupaya membatasi api menjalar lebih banyak
“personel di lapangan terus berjuang naik kea atas, membatasi dan melokalisir api agar tidak melebar. Saat ini komdisi masih menyala dan kita terus berupaya padamkan, kami juga menjajaki pengarahan helicopter water bombing yang disiagakan dari Gunung Lawu jika kondisi medan memungkinkan,”ujarnya
Kapolda mengatakan medan yang ekstrim menjadi tantangan pemadaman secara darat, karena itu perlu peralatan konvensional dan partisipasi warga, penutupan seluruh jalur pendakian Gunung Sumbing maupun gunung – gunung lain di Jawa Tengah, demi keselamatan masyarakat.
Sebelumya telah dilakukan evakuasi 162 pendaki pada (19-20/26) dalam keadaan selamat dan sehat setelah adanya laporan karhutla di Gunung Sumbing
Sementara itu AKBP Ricky Pripurna Atmaja menjelaskan mengenai penetapan status tanggap darurat diambil bersama Pemerintah Daerah mengingat luasnya dampak kebarakan yang telah melampui 100 hektare, sehingga membutuhkan percepatan dukungan bantuan
Berdasarkan data Polres Wonosobo total area terdampak diperkirkaran mencapai 306 hektare, dengan 140 hektare berhasil dipadamkan, dan fokus penanganan pada du hamparan titik aktif seluas 90 hektare dan 70 hektare
“sebanyak 180 personel yang terdiri dalam 6 pleton kami sebar ke titik – titik kritis, seperti kawasan Banyumudal, selain membuat sekat bakar (firebreak), kami juga dibanatu warga petani setempat yang mengerahkan mesim pompa steam air untuk membasahi area rawan,” jelas Kapolres
















































