MAGELANG, suaramerdekakedu.com – Pesatnya perkembangan transportasi berbasis digital tidal selalu menguntungkan bagi sebagian orang. Hal ini dirasakan oleh sejumlah pekerja yang bermata pencaharian jasa transportasi konvensional. Salah satunya Muhlasin (55), seorang pria paruh baya yang berprofesi sebagai tukang becak konvensional di Pasar Rejowinangun, Kota Magelang yang mengalami langsung dampaknya.
Muhlasin menceritakan perjalanan hidupnya sebagai tukang becak sudah selama 40 tahun. Dahulu, ia sempat menarik becak di Jakarta selama 6 tahun, kemudian pindah ke Kota Magelang dan mangkal di Pasar Rejowinangun hingga saat ini.
Perjuangan selama puluhan tahun sebagai tukang becak, Muhlasin kini dilanda kecemasan dengan hadirnya kendaraan modern yang membuat sejumlah penumpang mulai beralih. Kondisi ini membuat ia harus bertahan demi menghidupi keluarganya.
“Sekarang udah banyak saingan. Ada becak listrik, bajai, ojek online,” ungkapnya saat ditemui di pangkalan becaknya (15/09).
Setiap hari Muhlasin mangkal dari jam 07.00 pagi hingga sore hari, namun jika kondisi penumpang sepi ia mengaku bisa pulang jam 21.00 malam. Sejak beberapa tahun terakhir, ia mengaku mendapatkan paling banyak 3-4 penumpang dalam sehari. Jauh menurun drastis dengan zaman dahulu dimana penumpang ramai menggunakan becak konvensional. Bahkan banyak tukang becak konvensional memilih meninggalkan profesinya karena sepinya penumpang.
Demi mendapatkan penumpang bahkan Muhlasin rela tidak mematok harga tarif becaknya, melainkan harga tarif diserahkan kepada penumpang dengan membayar seikhlasnya. Penumpang setianya tidak lain adalah pedagang pasar, seperti penjual sate yang membutuhkan jasa angkut barang dagangannya.
“Kalau tarifnya seikhlasnya, seikhlasnya. Enggak, enggak pernah ngaranin kalau saya. Enggak pernah narif. Kalau mau naik becak udah mau ngasih berapa, Bu. Kalau enggak gitu, sekarang susah, udah banyak saingan. Kalau enggak gitu enggak dapat uang. Kalau narif-narif enggak dapat uang,” ujarnya.
Selain persaingan transportasi berbasis digital, para tukang becak konvensional dihadapkan sulitnya mendapatkan program bantuan becak listrik dari pemerintah. Muhlasin mengungkapkan pembagian becak listrik belum tepat sasaran dan merata.
Meski berat tantangan yang dihadapi, tanggung jawab keluarga dan biaya sekolah anaknya menjadi motivasi utama Muhlasin tetap berjuang untuk mencari rezeki.

























































