MAGELANG, suaramerdekakedu.com – Bagi sebagian besar pedagang kecil, memilih lokasi berjualan bukanlah perkara mudah, melainkan bagian dari strategi bertahan hidup di tengah himpitan ekonomi. Di sekitar kawasan Pasar Rejowinangun, tidak sedikit pedagang yang memilih menggelar lapak di pinggir jalan ketimbang menyewa kios di dalam pasar. Alasan utamanya yaitu sangat sederhana, mereka ingin berada di tempat yang paling mudah dijangkau oleh pembeli yang lalu lalang, meski harus bersiap menghadapi terik matahari hingga penertiban petugas.
Pengalaman ini dirasakan langsung oleh Milah, seorang pedagang yang telah berjualan selama 36 tahun. Ia menceritakan bagaimana sepinya kondisi ketika berjualan di fasilitas resmi atau dalam gedung pasar yang disediakan pemerintah.
“Oleh e bagian nang kantor. Nek nang kantor kuwi ora ono sing tuku, terus tak tinggali. Nek sedino kok oleh duit Rp10.000 njur bali, ora cukup”, ungkap Mila, Selasa (15/9).
Bagi para pedagang seperti dirinya, pendapatan Rp10.000 per hari sangat jauh dari kata cukup, terlebih mereka menanggung ongkos transportasi harian dari rumah yang cukup jauh sehingga tarif yang dikeluarkan juga cukup tinggi.
Faktor kenyamanan pembeli yang ingin bertransaksi dengan cepat juga menjadi alasan utama mengapa area pinggir jalan lebih menjanjikan. Pembeli yang mengendarai sepeda motor cenderung enggan masuk ke dalam bangunan pasar dan lebih memilih berhenti sejenak di tepi jalan.
Mila menjelaskan perbedaan pembeli saat berjualan di pinggir jalan, “ Nang kene ra medun seko motor. Kadang cocok penghasilan oleh Rp200.000 nek ora Rp150.000”ujarnya. Kemudahan akses inilah yang membuat arus penjualan di tepi jalan jauh lebih cepat dibandingkan bertahan di dalam lapak pasar.
Dengan demikian, berjuang di pinggir jalan bukan tanpa resiko dan perjuangan. Para pedagang juga harus berhadapan dengan ancaman penggusuran oleh aparat, “Mbiyen nang kono ya podo wae. Gara-gara digusur, mbiyen ono Satpol PP ora entuk dodol. Kon ngalih, terus awak dewe ngalih,” ujar Muhrikah yang juga merupakan pedagang disana.
Namun, demi menafkahi keluarga dan menutupi ongkos perjalanan yang terus membengkak, mereka memilih bertahan. Di usia yang tak lagi muda, harapan mereka pun sangat bersahaja, “Sek penting ki saiki awak dewe diparingi sehat. Nek masalah rejeki kuwi sek Kuasa sek ngatur,” pungkasnya penuh ketabahan.

























































