MAGELANG, suaramerdekakedu.com — Bangunan kuno yang berdiri kokoh di Kampung Tulung, Kota Magelang, menyimpan rekam jejak penting dalam sejarah mempertahankan kemerdekaan Republik Indonesia. Rumah yang pernah difungsikan sebagai markas Badan Keamanan Rakyat (BKR) ini menjadi saksi bisu berbagai peristiwa heroik serta perjuangan para pahlawan di masa lalu.
Dalam sebuah kesempatan wawancara, Ibu Nurwati membagikan berbagai kisah menarik mengenai nilai historis serta keunikan peninggalan bersejarah yang masih terjaga utuh di dalam bangunan tersebut.
Salah satu bukti sejarah yang paling berharga di rumah ini adalah keberadaan satu set kursi tamu kuno di ruang depan. Momen bersejarah pernah tercipta saat Presiden Republik Indonesia pertama, Ir. Soekarno, singgah dan menduduki kursi tersebut.
“Dulu waktu yang punya rumah ini masih ada, kursi set ini pernah diduduki oleh Presiden RI pertama, Pak Soekarno,” tuturnya.
Meski sempat kusam dimakan usia, perabotan bersejarah ini mendapat perhatian khusus dari pimpinan Akademi Militer terdahulu. Melalui inisiatif Gubernur Akmil saat itu, set kursi tersebut direnovasi dan dikembalikan sesuai bentuk serta warna aslinya agar nilai sejarahnya tetap terjaga.
Nilai otentik rumah bersejarah ini juga terlihat pada struktur fisik bangunan yang masih dipertahankan. Di beberapa bagian tiang kayu dan dinding rumah, hingga kini masih terlihat jelas bekas srempetan peluru dari pertempuran masa kemerdekaan.
Selain itu, di area sekitar rumah juga terdapat peninggalan alat tradisional berupa dua buah lumpang penumbuk beras kuno serta peti kayu (peti tempat penyimpanan beras) asli dari zaman dahulu yang masih terawat.
Keunikan lain yang paling sakral berada di area ruang tengah. Pada ubin lantai bangunan tersebut, terdapat garis pecahan alami yang memiliki cerita sejarah yang sangat mendalam.
Nurwati menceritakan bahwa lokasi di bawah lantai tersebut sempat dijadikan lokasi pemakaman darurat bagi para pejuang yang gugur di medan perang.
“Di lantai ini dulu merupakan makam tujuh orang pahlawan yang gugur saat perang,” jelasnya.
Selama kurang lebih setengah bulan di tengah situasi perang yang belum mereda, tujuh pahlawan tersebut dimakamkan bersama dalam satu liang lahat di dalam rumah, sebelum akhirnya dipindahkan secara layak ke Taman Makam Pahlawan (TMP).
Hingga saat ini, Rumah Bersejarah BKR di Kampung Tulung terus menjadi destinasi edukasi bersejarah dan lokasi peringatan momen-momen kebangsaan, seperti peringatan HUT RI dan peristiwa bersejarah lainnya untuk mengenang jasa para pahlawan bangsa.

























































