MAGELANG, suaramerdekakedu.com –Kawasan lereng Gunung Merapi di Kabupaten Sleman, Yogyakarta, menawarkan destinasi rekreasi yang memadukan keindahan panorama alam dengan arsitektur menyerupai situs bersejarah asal Inggris, Stonehenge. Tempat ini menyuguhkan hamparan rumput hijau yang dipadukan dengan susunan batu vulkanik raksasa berbentuk melingkar di ruang terbuka. Selain menjadi tujuan wisata yang ramah di kantong, lokasi ini juga memperlihatkan lanskap yang estetis dengan latar belakang puncak Gunung Merapi saat cuaca mendukung.
Kehadiran monumen buatan seluas sekitar 200 meter persegi ini berakar dari upaya kebangkitan ekonomi warga setempat pasca-erupsi besar Gunung Merapi pada tahun 2010. Masyarakat memanfaatkan sisa-sisa material letusan berupa batuan vulkanik berukuran besar untuk dirakit menyerupai situs megalitikum dunia. Resmi dibuka untuk umum sejak 2016 sebagai bagian dari kawasan wisata tematik The Lost World, deretan batu setinggi hingga empat meter tersebut menampilkan tekstur alami yang kokoh dan memberikan nuansa megah.
Daya tarik utamanya terletak pada spot foto yang sangat instagramable. Banyak pengunjung memanfaatkan keindahan lokasi ini untuk berswafoto, agenda karyawisata edukatif, hingga sesi pemotretan pranikah. Perpaduan antara batuan berukuran masif, padang rumput hijau, dan udara lereng gunung yang sejuk menghasilkan komposisi visual yang memukau bagi para pencinta fotografi.
Secara geografis, objek wisata ini bertempat di Dusun Petung, Desa Kepuharjo, Kecamatan Cangkringan, Kabupaten Sleman. Jaraknya sekitar 25 hingga 30 kilometer dari pusat Kota Yogyakarta dan dapat ditempuh dalam waktu kurang lebih satu jam perjalanan menggunakan kendaraan pribadi. Pengunjung dapat melalui jalur Jalan Kaliurang ke arah utara menuju persimpangan Pakem, kemudian berbelok ke timur menuju Cangkringan mengikuti penunjuk arah ke Desa Kepuharjo.
Untuk menikmati suasana dan keindahan tempat ini, tiket masuk dipatok seharga Rp 15.000 per orang, dengan tarif parkir kendaraan sebesar Rp 2.000 untuk roda dua dan Rp 5.000 untuk roda empat. Destinasi ini beroperasi setiap hari dari pukul 07.00 hingga 17.00 WIB. Pihak pengelola menyarankan wisatawan untuk datang pada pagi hari antara pukul 07.00 sampai 09.00 WIB guna menikmati pemandangan puncak Merapi yang cerah tanpa terhalang kabut sekaligus menghindari teriknya matahari. Ditunjang fasilitas yang memadai seperti area parkir luas, toilet, musala, dan warung lokal, kawasan ini menjadi pilihan rekreasi yang menarik di kawasan lereng Merapi.





















































