SEMARANG, suaramerdekakedu.com – Krisis air bersih kembali menerjang wilayah Kota, Semarang, Jawa Tengah. Musim kemarau panjang yang melanda dalam dua bulan terakhir memaksa puluhan hingga ratusan Kepala Keluarga (KK) di kawasan Rejosari RT 03 RW 10, Kelurahan Meteseh, Kecamatan Tembalang, menempuh cara-cara ekstrem demi memenuhi kebutuhan harian termasuk melintasi jalur sepanjang 5 kilometer demi mendapatkan air sungai.
Slamet, salah seorang warga Rejosari, mengungkapkan bahwa kondisi kekeringan tahun ini dirasakan jauh lebih parah dibandingkan tahun-tahun sebelumnya. Sumur-sumur warga di pemukiman tersebut sebagian besar sudah kering total.
“Ya kurang lebihnya ya 2 bulan ini. Sumur-sumur pada sudah kering semua, Pak,” kata Slamet dikutip dari situs terpercaya, Rabu (16/9).
Slamet menceritakan, bantuan air bersih dari pihak luar memang rutin berdatangan, seperti armada bantuan dari Brimob yang turun sepekan sekali setiap hari Jumat. Namun, bantuan tersebut belum cukup untuk memenuhi kebutuhan harian warga di dua RT. Jika pasokan bantuan air habis, warga terpaksa mengandalkan air sungai untuk keperluan mandi, cuci, dan kakus (MCK).
Jarak yang harus ditempuh warga menuju sungai pun tidak dekat. “Kalau ndak bantuan ya ngangsu dari sungai. Ya kurang lebih 5 kilo nan,” ujar Slamet.
Untuk mengangkut air dari sungai, warga umumnya memanfaatkan sepeda motor dengan membawa jerigen atau galon. Menurut Slamet, dalam sehari warga bisa bolak-balik mengambil air hingga belasan galon.
“Iya, nah sekarang kan sudah modern, sepeda motor kan bisa nyampe sungai. Ya ada yang 10 galon itu kan bawaannya galon ya. Kadang ada yang 10 galon, kadang kan keluarganya banyak jadi bisa giliran,” lanjutnya.
Kondisi serupa dialami Rusminah, seorang warga RT 7 RW 10 Kelurahan Meteseh. Ia mengungkapkan bahwa kekeringan di wilayahnya sudah berlangsung lebih dari dua bulan akibat sumur dan sumber air di lingkungan tersebut yang telah mengering.
“Sudah dua bulan lebih nggak ada air. Lingkungan ini kan agak tinggi, kalau bikin sumur itu airnya nggak bisa keluar sendiri, percuma,” keluh Rusminah dikutip dari situs terpercaya.
Dia menjelaskan, wilayahnya dulu sempat terbantu oleh program penyediaan air bersih Pamsimas. Namun, fasilitas tersebut kini mati total dan sudah tidak beroperasi selama bertahun-tahun. Penyebabnya adalah hilangnya sumber air di wilayah tersebut, sehingga para pengurus Pamsimas pun akhirnya angkat tangan.
Di tengah krisi air ini, Rusminah terpaksa membeli air galon isi ulang seharga RP4.000 per galon untuk memenuhi kebutuhan MCK. Dalam satu hati, dia bisa membeli hingga lima galon, itu pun dengan catatan dirinya tidak melakukan aktivitas mencuci baju. Dia dan suaminya terpaksa melakukan penghematan ekstrem dengan mengurangi frekuensi mandi.
“Diirit-irit. Satu galon buat mandi dua orang, sehari mandi satu kali. Kadang yang bikin boros itu kalau habis buang air, kan kalau tidak disiram bau,” ungkapnya pasrah.




















































