MAGELANG, suaramerdekakedu.com – Suara khas dan aroma kue putu tradisional masih setia hadir menyapa warga. Di balik gerobak pikul yang sederhana, ada Tirto Sumeto (64) atau yang akrab disapa Pak Tir Putu sosok lansia yang tidak pernah lelah berjuang mengais rezeki.
Lahir di Wonogiri ia mengaku telah berjualan sebagai penjual kue putu pikul sejak usia 18 tahun. Jika dihitung-hitung, sudah puluhan tahun Pak Tir melakukan pekerjaan ini. Dengan beban pikulan di pundaknya, ia menyusuri jalanan Kota Magelang berkilometer-kilometer setiap hari hanya dengan berjalan kaki.
“Mulai jualan sejak umur 18 tahun sampai sekarang 64 tahun. Kalau aslinya saya orang Wonogiri. Di perantauan ini kalau pas musim kemarau dan tidak ada kegiatan bertani, ya saya keliling jualan putu,” tutur Tirto (31/08) saat ditemui di sela-sela aktivitas berdagangnya.
Kehidupan Tirto di perantauan juga penuh rintangan. Saat ini, ia harus tinggal seorang diri di sebuah kos sederhana, sedangkan keluarganya berada di Wonogiri. Setiap hari, Pak Tir mulai mempersiapkan dagangan dan berangkat keliling sekitar pukul 11.00 siang. Rute jalan yang dilewati mulai dari kawasan Sanden hingga keliling pemukiman warga sekitarnya.
Saat ditanya soal persaingan dagang di zaman modern di mana orang-orang lebih suka membeli makanan secara online Pak Tir meresponsnya dengan sangat santai. Menurutnya, rezeki sudah ada yang mengatur.
“Jualan seperti ini ya kadang sepi, kadang rame. Nggak bisa dipastiin. Kalau lagi rame ya alhamdulillah bisa pulang lebih cepat. Tapi kalau lagi sepi, ya terpaksa keliling sampai larut malam. Yang penting tetap habis,” ungkapnya.
Di usianya yang sudah memasuki kepala enam, fisik Pak Tir sudah tidak seperti dulu. Memikul beban berat sambil terus berjalan kaki di bawah terik matahari tentu sangat menguras tenaga. Namun, rasa tanggung jawab pada keluarga membuat langkah kakinya tetap kuat.
“Memikul dagangan sambil jalan kaki terus begini memang paling berat. Tapi ya alhamdulillah, sampai sekarang masih diberi kekuatan dan kesehatan,” tutur Pak Tir di akhir wawancara.













































