MAGELANG, suaramerdekakedu.com – Berawal dari pemukiman padat dengan lorong-lorong sempit berdinding tembok yang gersang dan berhawa panas, warga RW 04 Kelurahan Cacaban, Kecamatan Magelang Tengah, Kota Magelang, berhasil merubah wilayah tersebut menjadi lingkungan yang asri dan produktif. Melalui semangat gotong royong dan kesadaran lingkungan, wilayah ini berkembang menjadi Kampung Bersemi. Kawasan ini juga mempunyai berbagai jenis edukasi lingkungan terpadu yang mencakup seperti adanya Kampung Organik, Bank Sampah, Program Kebersihan, Keindahan, dan Kesehatan (K3), pengomposan, daur ulang, hingga budidaya maggot.
Ketua RW 04 Cacaban sekaligus Ketua Pengurus Kampung Bersemi, Joko Budi Sulistyo, menceritakan bahwa penataan lingkungan ini dilakukan secara bertahap sejak puluhan tahun lalu dan terus diwariskan secara konsisten. Kampung yang dulunya dirasa gersang kini dikelola secara mandiri oleh warga melalui pemanfaatan lahan sempit dan polybag di setiap pekarangan rumah. Hasil dari keberhasilan pengelolaan lingkungan ini tidak hanya dirasakan oleh warga lokal, tetapi juga menarik minat di berbagai instansi, sekolah, hingga perguruan tinggi untuk datang belajar.
“Kampung kami ini kan ketika orang masuk itu pemandangan kanan-kiri tembok, kalau siang jadi panas. Bagaimana kami bersama warga membentuk kampung tembok ini menjadi lebih baik dan bagus. Kami lakukan secara bertahap, hanya menanam beberapa tanaman, kemudian berkembang menjadi banyak. Kalau langsung seperti ini kan butuh biaya banyak dan perawatan, tapi karena bertahap jadi tidak terasa,” ujar Joko.
Keberhasilan Program Kampung bersemi juga tidak lepas dari integrasi pengelolaan sampah dan pemanfaatan hadiah perlombaan lingkungan. Pengurus RW 04, Triyanto, menjelaskan bahwa seluruh dana yang diperoleh dari kemenangan berbagai lomba K3 dan lingkungan tidak dibagikan untuk kepentingan konsumtif warga, melainkan diinvestasikan kembali untuk pembangunan fasilitas di kampung, seperti pembuatan taman, pengecatan dinding, hingga pembelian bibit tanaman dan tanaman hias. Selain itu, warga juga wajib untuk terlibat aktif dalam pemilahan sampah rumah tangga yang nantinya sampah itu akan ditimbang secara rutin setiap bulan melalui Bank Sampah.
“Semua uang hadiah lomba tidak dibagikan ke warga atau untuk makan-makan dan rekreasi. Melainkan, uang itu nantinya digunakan untuk pembangunan kampung. Dari hasil lomba itulah kampung tertata rapi, untuk membangun taman, mengecat, hingga membeli tanaman. Warga juga tidak dimintai iuran fisik, warga hanya ikut merawat dan menjaga kebersihan,” Jelas Triyanto.
Ragam inovasi lingkungan yang dijalankan secara konsisten oleh warga setempat telah membuahkan hasil yang memuaskan, seperti mengantarkan RW 04 Cacaban meraih berbagai penghargaan bergengsi, mulai dari Juara K3 tingkat kota hingga predikat tertinggi Program Kampung Iklim (ProKlim) Lestari dari Kementrian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK). Atas pencapaian yang diraih tersebut, wilayah RW 04 Cacaban kini resmi dikembangkan sebagai destinasi Desa Wisata Cantik berbasis edukasi lingkungan. Pengunjung yang hadir dapat belajar secara langsung mengenai pemilahan sampah, pembuatan eco-enzyme, pembuatan pupuk, hingga pengolahan daur ulang sampah plastik menjadi souvenir.
Kendati telah meraih banyak prestasi dan menjadi rujukan nasional, pengurus kampung mengakui masih menghadapi tantangan dalam hal regenerasi. Joko Budi Sulistyo, mengungkapkan bahwa belum banyak generasi muda yang tertarik untuk terjun langsung ke dalam pengelolaan isu-isu lingkungan dan sampah. Meski demikian, pihak pengurus tetap melibatkan anak-anak muda untuk mengelola media informasi serta kegiatan kerja bakti secara berkala demi menjaga keberlanjutan Kampung Bersemi kedepannya.
“Mungkin, bagi saya sendiri tantangannya itu ya kurangnya generasi muda yang tertarik untuk terjun ke masalah lingkungan, terutama sampah. Namun bagi kami yang terpenting adalah bagaimana bisa mempertahankan kontinuitas dan rutinitas ini, karena itu yang paling berat,” pungkas Joko.













































