
MAGELANG, kedu.suaramerdeka.com – Kuliner Jenggolo yang berlokasi di Jalan Jenggolo, Kelurahan Kemirirejo, Kecamatan Magelang Tengah, Kota Magelang, menjadi salah satu kawasan kuliner yang menampung pedagang makanan dalam satu lokasi. Sebelum menempati shelter seperti sekarang, sejumlah pedagang berjualan di lokasi berbeda, termasuk di sepanjang Jalan Tidar.
Salah satu pedagang yang mengalami perpindahan tersebut adalah Marsudi. Ia mengaku telah berjualan sejak 1990. Saat itu, ia berjualan di lokasi lain sebelum akhirnya dipindahkan ke shelter Kuliner Jenggolo melalui penataan pemerintah.
Menurut Marsudi, pedagang yang sebelumnya berjualan di sepanjang Jalan Tidar kemudian dikumpulkan dalam satu lokasi. Langkah tersebut menjadi solusi bagi pedagang agar tidak lagi berjualan di pinggir jalan protokol.
“Akhirnya itu Pak Wali Kota Pak Sigit itu memberi solusi sing jualan di Jalan Tidar ini semua dikumpulkan jadi satu ke sini,” ujarnya.
Keberadaan rumah sakit di sekitar kawasan turut mendukung aktivitas perdagangan Kuliner Jenggolo. Marsudi mengatakan, pengunjung rumah sakit, baik yang sedang menjenguk maupun menunggu pasien, menjadi salah satu kelompok pembeli yang cukup dominan.
Selain lokasi yang strategis, ia menilai kebersihan, pelayanan yang baik, serta harga makanan yang terjangkau turut memengaruhi minat pembeli.
Ketua Paguyuban Kuliner Jenggolo, Nurianti, mengatakan penataan kawasan tersebut dilakukan oleh pemerintah melalui Dinas Perindustrian dan Perdagangan (Disperindag). Pemerintah menyediakan bangunan untuk menunjang aktivitas pedagang, sedangkan pengelolaan sehari-hari diserahkan kepada paguyuban.
“Penataan dari Disperindag. Kita di bawah naungan Disperindag,” ujarnya.
Nurianti yang telah berjualan selama kurang lebih 30 tahun itu menjelaskan, paguyuban bertanggung jawab mengelola berbagai kebutuhan bersama, mulai dari pembayaran listrik, air, hingga keamanan pada malam hari. Selain itu, terdapat pertemuan rutin dan pertanggungjawaban kepada pemerintah.
Dari sisi aktivitas perdagangan, Nurianti mengatakan Kuliner Jenggolo cenderung ramai pada pagi hingga sore hari, terutama saat waktu sarapan dan makan siang. Sementara itu, aktivitas pada malam hari belum maksimal karena belum semua pedagang berjualan secara rutin. Sebagian memilih libur karena kondisi yang dinilai kurang ramai.
Nurianti berharap Kuliner Jenggolo semakin ramai dikunjungi pembeli. Ia juga ingin kerukunan dan kekompakan antarpedagang tetap terjaga agar kawasan tersebut dapat terus menjadi tempat mencari nafkah bagi para pedagang.
“Harapannya ya, semoga saja kuliner ini semakin the best, semakin ramai, semakin rukun kita jualan di sini sebagai persaudaraan ya di sini itu satu keluarga keluarga besar kuliner Jenggala,” ujarnya saat diwawancarai.

















































