KULON PROGO – Para petani cabai di daerah pesisir Kulon Progo menambah kewaspadaan mereka terhadap kemungkinan serangan penyakit tanaman di tengah cuaca yang tidak stabil. Penyakit ini diperkirakan dapat menyebar dengan cepat dan memengaruhi hasil panen. Hal ini menjadi fokus perhatian petani karena saat ini mereka sedang menjalani musim tanam cabai. Tindakan pencegahan diambil untuk memastikan produksi tetap stabil menjelang waktu panen.
Suyono, seorang petani cabai yang tinggal di Kelurahan Karangsewu, Kapanewon Galur, menyatakan bahwa perubahan cuaca membuat tanaman cabai lebih rentan terhadap serangan penyakit. Ia menyampaikan bahwa penyakit yang menyerang satu tanaman dapat dengan cepat berpindah ke tanaman lain. Ini bisa menyebabkan hasil panen petani berkemungkinan menurun.
“Ketika satu tanaman terinfeksi penyakit, itu cepat menyebar ke tanaman cabai lainnya dan berpengaruh pada hasil panen,” katanya saat ditemui di lahannya yang berdekatan dengan Pantai Trisik pada Rabu (23/09) dikutip dari Tribun News.
Suyono menilai adanya serangan penyakit ini juga berdampak pada ketersediaan cabai di pasar. Ia mengungkapkan bahwa hasil panen di beberapa pusat cabai mengalami penurunan kualitas karena tanaman terpengaruh oleh penyakit. Situasi ini terjadi bersamaan dengan banyak petani yang masih dalam tahap penanaman. Keadaan ini dianggap sebagai salah satu faktor yang dapat memengaruhi harga cabai.
Tanaman cabai milik Suyono saat ini berusia sekitar satu bulan. Perkiraan masa panen cabai di area pesisir selatan Kulon Progo baru akan dimulai sekitar dua bulan lagi, atau pada bulan November. Dia menjelaskan bahwa sebagian besar petani di daerah tersebut menanam cabai merah keriting. Di sisi lain, cabai rawit merah dianggap memiliki kemungkinan yang lebih tinggi untuk terserang penyakit.
Di samping risiko penyakit, Suyono juga berhadapan dengan tingginya biaya pupuk yang tidak disubsidi. Ia memilih menggunakan pupuk nonsubsidi karena ia percaya hasil dari pupuk tersebut lebih optimal untuk pertumbuhan tanaman. Saat ini, harga pupuk tersebut mencapai Rp850 ribu per kantong dengan berat sekitar 40 hingga 50 kilogram.
“Sekarang harga pupuknya Rp 850 ribu per kantong (40 sampai 50 kilogram), itu harus digunakan sesuai dengan porsi yang tepat,” kata Suyono.
Terkait kebutuhan air, Suyono menyatakan tidak mengalami masalah meskipun sudah memasuki musim kemarau. Ia memanfaatkan sumur bor yang kedalamannya sekitar tujuh meter untuk memberikan air pada tanaman cabainya. Ia menyebut bahwa pasokan air dari sumur tersebut masih mencukupi walaupun kemarau berlangsung lama. Kondisi ini memastikan kebutuhan air untuk tanamannya tetap terpenuhi.
Harga cabai di pasar Kulon Progo saat ini tetap berada pada angka yang tinggi. Di Pasar Desa Sentolo, harga cabai rawit merah mencapai sekitar Rp60 ribu per kilogram, dan cabai merah keriting berada di kisaran Rp45 ribu per kilogram. Waginem, seorang penjual sayur di pasar tersebut, menyatakan bahwa kenaikan harga cabai sudah berlangsung selama beberapa minggu. Selain harga yang melonjak, ia juga menekankan bahwa pasokan dari para petani mengalami penurunan dan kualitas cabai yang ada juga tidak bagus.

























































