GUNUNGKIDUL, suaramerdekakedu.com – Selama periode Januari hingga September 2026, terdapat 216 kasus demam berdarah dengue (DBD) di Kabupaten Gunungkidul. Angka ini jauh lebih sedikit dibandingkan dengan total kasus pada tahun 2025 yang mencapai 1.167 orang terinfeksi DBD. Dinas Kesehatan Gunungkidul mengindikasikan adanya penurunan kasus, terutama dalam beberapa bulan terakhir. Hal ini dapat dilihat sejak bulan Juli hingga September 2026. Dinas Kesehatan Gunungkidul melaporkan 1.167 warga terinfeksi DBD sepanjang tahun 2025, sementara tahun ini hanya tercatat 216 kasus hingga September.
Puncak kasus DBD tahun ini terjadi pada bulan Januari dengan lebih dari 60 kasus. Setelah itu, angka kasus pada bulan-bulan selanjutnya berada dalam rentang 30 kasus per bulan. Memasuki bulan Juli, Agustus, dan September, jumlah kasus menurun hingga kurang dari 10 kasus dalam setiap bulannya. Dinas Kesehatan mengaitkan tren tersebut dengan faktor lingkungan dan musim, di mana kasus DBD cenderung meningkat saat musim hujan dan menurun di musim kering.
Pencegahan juga diarahkan untuk memerangi sarang nyamuk (PSN) dengan pengawasan tempat-tempat yang berpotensi menjadi lokasi reproduksi nyamuk. Dinas Kesehatan Gunungkidul menetapkan target angka bebas jentik (ABJ) setidaknya 95% sebagai salah satu tanda pengendalian DBD. Masyarakat diimbau untuk menerapkan langkah 3M, yaitu menutup tempat penampungan air, menguras wadah air secara berkala, serta membuang barang-barang yang dapat menjadi sarang bagi nyamuk.
“Metode pencegahan juga mencakup penutupan tempat-tempat penampungan air, menguras, hingga mengubur benda-benda yang mungkin menjadi sarang nyamuk. Tindakan nyata ini sangat penting untuk mengurangi laju penyebaran agar kasusnya dapat lebih terkontrol,” ujarnya.
Selain PSN, masyarakat juga bisa memanfaatkan ovitrap untuk membantu dalam memantau keberadaan nyamuk. Alat ini berupa wadah yang dirancang untuk menarik nyamuk bertelur sehingga keberadaan nyamuk dapat dievaluasi. Wanda menjelaskan bahwa ovitrap dapat dibuat dari wadah berwarna gelap yang berisi air dan ditambahkan bahan penarik seperti kasa atau kertas saring.
“Tujuannya adalah untuk menangkap nyamuk bertelur di wadah yang telah disiapkan, oleh sebab itu diperlukan penarik dari kasa atau kertas saring. Metode ini efektif dalam mengurangi populasi nyamuk untuk mencegah terjadinya DBD,” ujarnya.
Hingga bulan September 2026, Dinas Kesehatan Gunungkidul memastikan tidak ada warga yang meninggal akibat DBD. Meskipun jumlah kasus lebih rendah dibandingkan dengan tahun lalu, masyarakat diingatkan untuk tidak mengabaikan tindakan pencegahan. Pengendalian lingkungan menjadi hal yang krusial untuk menekan tempat berkembang biaknya nyamuk. Terlebih lagi, tahun 2026 masih menyisakan tiga bulan, sehingga perkembangan kasus tetap harus diperhatikan.

























































