WONOSOBO, suaramerdekakedu.com – aktifitas di ladang menjadi kegiatan sehari – hari Wisnu Bayu Prabowo(30) di Dusun Prumbanan RT 01, RW 04 Desa Purwojati, Kecamatan Kertek, Kabupaten Wonosobo. Lahan pertanian yang ditanami ubi seluas 17 hektare menghasilkan ribuan kilogram ubi setiap harinya. Distribusi ke belasan kios yang ada di wilayah Wonosobo hingga luar kota, serta mencapai pasar luar negeri dari ekspor ubi madu. Berawal dari tekad dan kerja keras anak muda ingin membuat petani sejahtera di wilayah tempat tinggalnya.
Tahun 2019 Wisnu Bayu mengikuti program pembinaan petani muda dari kementrian pertanian Republik Indonesia dengan mengikuti seleksi terlebih dahulu dan lolos dari 263 peserta seluruh Indonesia untuk belajar dan magang mengenai pertanian di Jepang selama 3 tahun dengan biaya penuh dari pemerintah Indonesia selama kegiatan di Jepang.
Setelah mengikuti program selama 3 tahun serta mendapat sertifikat belajar dan magang, Wisnu bayu memutuskan untuk kembali ke Indonesia walaupun sudah mendapatkan tawaran pekerjaan di Jepang, Wisnu mengatakan setelah menempuh pendidikan dari negeri Sakura tersebut ada baiknya ilmu yang didapat bisa diterapkan di Indonesia khususnya di lingkungan tempat tinggalnya yaitu Kabupaten Wonosobo, membangun sistem dan menyediakan lapangan kerja sekaligus tetap mengembangkan bisnis orang tua di bidang pertanian terutama menanam ubi madu saat ini.
Awal merintis tahun 2013, Untungno(52), Ayah dari Wisnu Bayu menanam ubi di belakang rumah di Dusun Prumbanan RT 01, RW 04 Desa Purwojati, Kecamatan Kertek, Kabupaten Wonosobo dengan luas lahan 1 hekatre, hingga pada tahun 2020 terjadi lockdown karena covid 19 di berbagai wilayah Indonesia menyebabkan ladang pertanian Untungno mengalami kerugian hingga ratusan juta rupiah karena gagal panen. namun setelah kelonggaran pasca covid 19, selama enam bulan usaha pertanian ubi milik Untungno bisa Kembali bangkit berkat ekspor ubi.
Lahan seluas 17 hektare lebih disewa oleh Wisnu bayu dan tersebar di tujuh Kecamatan di Kabupaten Wonosobo untuk ditanami ubi madu. Perbedaan ubi madu dengan yang lain adalah ubi madu dapat diolah dengan cara apa saja dan menghasilkan citra rasa yang manis. Terutama dengan pengolahan di oven ubi madu mempunyai ciri khas mengeluarkan cairan seperti madu yang begitu pekat.
Lahan ubi di panen setiap hari, sistem panen yang diterapkan bergantian misalkan satu hektare masa tanam kemudian lahan satu hektare dipanen dan seterusnya. Menyerap banyak tenaga kerja di wilayah dimana lahan ubi di sewa untuk ditanami dan membantu panen. Satu kali panen paling sedikit menghasilkan 1000 kilogram atau 1 ton bahkan lebih.
“ setiap hari bisa satu ton atau bahkan lebih, kalau musim kemarau bisa menghasilkan satu ton itu termasuk bagus karena ubi langka di musim kemarau “ ujar Wisnu bayu.
Naik turunnya harga dikatakan Wisnu tergantung ketersediaan yang ada setelah panen, kenaikan harga mencapai 10 persen bisa tergantung dari ukuran ubi madu yang dihasilkan juga. Untuk ukuran ubi madu yang diekspor ke Hongkong dan Singapore memiliki berat mencapai 150 – 700 gram persatuan dengan kualitas permukaan ubi yang mulus tanpa ada cacat.
Ubi madu asli Wonosobo yang dikelola Wisnu mencapai distribusi ekspor memiliki ciri khas saat di olah dengan oven mengeluarkan cairan seperti madu dengan rasa yang sangat manis.
Menjadi petani sejahtera
Wisnu Bayu mengatakan ilmu yang didapatkan selama belajar dan magang di Jepang sampai saat ini selalu bisa diterapkan salah satunya adalah mengenai kedisiplinan, kerja keras untuk kehidupan yang akan datang. Sehingga dirinya saat ini menerapkan bagaimana menjadi petani yang sejahtera untuk dirinya dan lingkungan tempat tinggalnya.
Menginspirasi serta memberikan pengalaman kerja yang baik dan ilmu yang dapat diterapkan di lingkungan tempat tinggalnya sehingga anak anak dari para petani tetap tergerak untuk menjadi penerus orang tuanya sehingga profesi di bidang pertanian pada lingkungan tempat tinggal nya lebih banyak dan menghasilkan keuntungan yang mensejahterakan.
“ bagaimana meminimalisir pembiayaan sehingga efisiensi produksi, petani di Indonesia dapat membuat harga saat pendistribusian hasil panen bukan dari tengkulak, serta sistem ekspor itu sehingga mengetahui jungkir balik perdagangan dan dapat mengatasi masalah yang ada “ ujar Wisnu mengenai sistem yang diterapkan untuk menjadi petani sejahtera.
Wisnu mengatakan tantangan yang paling besar di bidang pertanian justru berhadapan dengan karakter banyak orang yang bekerja dengannya, tidak sedikit salah komunikasi sehingga bagaimana mencari solusi agar pekerjaan tetap sesuai dengan target.
Penghargaan
Salah satu penghargaan yang didapat Wisnu Bayu dan adiknya, Witantri Damar Jati sebagai ‘Petani Muda Sukses Penerus Usaha Tani Keluarga’ oleh Kementrian Pertanian pada tahun 2026 berdasarkan penilaian FK P4S Jawa Tengah.
Setiap tahun Wisnu aji dan Untungno mengikuti pameran pertanian se Jawa Tengah yang di adakan di Kabupaten Temanggung serta satu – satunya yang memamerkan Ubi Madu se Jawa Tengah.
“ kalau menurut saya industri dan pertanian itu harus jalan bersama, ada petani yang punya bahan baku dan yang mengolah industri ” Ujar Untungno
Wisnu Bayu saat ini mengelola pertanian ubi madu bersama Ayahnya, Untungno serta mempunyai lebih dari dua kios ubi madu oven di berbagai kota yang di kelola adiknya, Witantri Damar Jati.
Dari anak muda yang memiliki tekad untuk memajukan sektor pertanian melalui petani sejahtera dengan dukungan orang tua penuh serta pengalaman dari ilmu yang selalu bisa diterapkan dimanapun tempat tinggalnya.






















































