WONOSOBO, suaramerdekakedu.com – salah satu langkah menjaga ketersediaan pangan, kelancaran distribusi, dan keterjangkauan harga bagi masyrakat, Pemerintah daerah wonosobo bersama perwakilan Bank Indonesia Provinsi Jawa Tengah memperkuat sinergi pengendalian inflasi daerah melalui High Level Meeting (HLM) Pada Jumat (4/9).
Pertemuan menjadi forum strategis untuk menyatukan langkah anatar pemerintah daerah, Bank Indoneia, dan Badan Pusat Statistik (BPS), Pelaku usaha,petani, peternak, pedagang, serta pemangku kepentingan lain dalam menjaga ketersediaan pangan, kelancaran distribusi, dan keterjangkauan harga bagi masyarakat
Bupati Wonosobo, Afif Nurhidayat mengatakan harga pangan memiliki pengaruh besar terhadap kehidupan masyarakat. Ketika harga beras, cabai, daging, dan komoditas strategis lainnya mengalami kenaikan dampaknya langsung dirasakan rumah tangga.
“ Pengendalian inflansi tidak boleh hanya dilakukan Ketika harga meningkat” ungkap Afif.
Inflansi Wonosobo Masih Terkendali, Pangan Tetap Jadi Perhatian
Kepala Kantor Perwakilan BI Jawa Tengah, M. Noor Nugroho menyampaikan secara tahunan inflansi Wonosobo masih berada dalam kondisi terkendali. Namun perkembangan inflansi bulanan perlu mendapat perhatian karena tercatat sedikit lebih tinggi dibandingkan Jawa Tengah.
Pada Agustus 2026, inflasi Wonosobo tercatat 0,49 persen secara bulanan (mtm) dan 3,01 persen secara tahunan (yoy). Angka inflasi tahunan tersebut masih berada di bawah inflasi Jawa Tengah sebesar 3,08 persen dan inflasi nasional sebesar 3,19 persen.
Wonosobo merupakan salah satu daerah sentra produksi pangan strategis, khususnya aneka cabai dan bawang putih yang masuk tiga besar produksi di Jawa Tengah. Namun keterjangkauan harga di tingkat konsumen masih belum tercerminkan.
“ Perkembangan harga pangan produk unggulan tersebut masih perlu menjadi perhatian karena harganya relative lebih tinggi dibandingkan keseluruhan di Jawa Tengah,” ujar Noor.
Sekertaris Daerah Wonosobo One Andang Wardoyo memaparkan, pemerintah daerah melakukan pemantauan harga bahan pokok dan barang penting secara rutin di pasar induk Wonosobo.
Komoditas yang relatif stabil sepanjang tahun bawang putih kisaran Rp. 35.000-Rp. 38.000 per kilogram, daging sapi menunjukan tren kenaikan hingga mencapai sekitar Rp145.000 per kilogram atau meningkat 7,4 persen, cabai rawit menjadi komoditas yang sangat volatile mencapai harga sekitar Rp83.015 per kilogram pada maret 2026.
Dari sisi produksi, hingga September 2026 Wonosobo diproyeksikan menghasilkan 50,138,59 ton beras/padi dari luas panen 17,867,82 hektare.






















































