MAGELANG, suaramerdekakedu.com – Kebun Raya Gunung Tidar di Kota Magelang selama ini lebih dikenal wisatawan sebagai tempat wisata alam dan ziarah religi. Namun, tak banyak yang menyadari bahwa di balik rindangnya pepohonan puncak Tidar, berdiri sebuah monumen bersejarah yang menyimpan kisah mencekam pertempuran pertumpahan darah masa awal kemerdekaan.
Situs bersejarah ini terletak tepat di kawasan Jalan Tidar, Kelurahan Kemirirejo, Kecamatan Magelang Tengah, Kota Magelang, Cagar budaya ini didirikan sebagai bentuk penghormatan abadi atas peristiwa heroik pengibaran Sang Merah Putih pada 25 September 1945 tepat satu bulan setelah Proklamasi Kemerdekaan RI.
Kisah mencekam itu bermula sekitar pukul 05.00 WIB, saat udara dingin dan kabut tebal menyelimuti Puncak Tidar. Ribuan pemuda dari berbagai pelosok Magelang mendaki puncak bukit berbekal senjata seadanya, seperti bambu runcing. Mereka bertekad mengawal pengibaran bendera Merah Putih pada pukul 06.00 WIB sebagai tanda kebulatan tekad mempertahankan kedaulatan negara.
Niat mulia para pemuda justru disambut hujan peluru. Serdadu Jepang yang bermarkas di gedung HCS di sekitar Jalan Tidar melancarkan aksi teror dengan melepas tembakan beruntun ke arah puncak. Suasana khidmat seketika berubah menjadi arena pertempuran sengit yang merenggut nyawa.
Dalam pertempuran yang tidak seimbang tersebut, lima orang pemuda gugur di tempat demi menjaga agar Sang Merah Putih tetap berkibar. Kelima pahlawan Magelang itu adalah Kusni, Slamet, Sudjud, Samad Sastrodimedjo, dan Djayus.
Darah yang tumpah di Puncak Tidar membakar kemarahan rakyat Magelang. Dipimpin Soerjo Soempeno dan Soewito Marjanto, massa bergerak cepat mengepung markas Jenderal Nakamura hingga dipaksa menyerahkan seluruh persenjataan pada tengah malam. Senjata hasil rampasan itu menjadi modal vital rakyat dan TKR untuk melawan gempuran Sekutu dan NICA pada pertempuran berikutnya.
Sayangnya, catatan sejarah kelam dan heroik di Jalan Tidar ini kini mulai meredup di tengah lalu lalang wisatawan. Monumen Pengibaran Bendera di Gunung Tidar hendaknya tidak sekadar menjadi titik singgah biasa, melainkan pengingat bahwa kemerdekaan di tanah Magelang pernah ditebus dengan nyawa para pejuang.


























































