MAGELANG, suaramerdekakedu.com – Pemerintah Kota Magelang bakal menata kawasan los/kios di kawasan Taman Kyai Langgeng (TKL). Penataan ini agar lebih tertata rapi, bersih, dan menarik bagi pengunjung, sehingga semakin laris.
Wali Kota Magelang, Damar Prasetyono secara langsung menyosialisasikan rencana ini kepada sejumlah pedagang di kawasan kios tersebut, Kamis (16/7). Rombongan Wali Kota dan jajaran diterima oleh sejumlah pedagang yang diketuai oleh Surono.
“Ini tujuan saya, tujuan Pemkot Magelang bagaimana lokasi ini tertata dengan baik. Di sini ada kepentingan UMKM dan lahan parkir. Kita tertibkan, sehingga apa yang menjadi tujuan tempat wisata dapat tercapai,” ujarnya di sela sosialisasi.
Dia menuturkan, penataan ini dimaksudkan juga agar TKL memiliki parkir yang ideal. Pedagang yang mendukung TKL pun bisa laku dibanding sebelumnya.
“Kalau TKL tidak ditata jadinya sepi, parkiran juga sepi, otomatis UMKM pun sepi. Nah, ini tahapan kita sosialisasi ke pedagang, lalu pendataan, dan tahap ketiga nanti pematangan, finalisasi, dan aksi penataan,” katanya.
Damar menyebutkan, penataan akan segera dimulai dan diharapkan selesai sebelum akhir tahun 2026. Penataan akan merubah tata letak UMKM dan parkir roda dua maupun roda empat.
“Nanti lahan parkir ada di bagian depan dan di belakang kios UMKM. Keduanya akan saling terhubung dan menguntungkan satu sama lain. Pengunjung yang parkir bisa ke UMKM untuk berbelanja, sehingga lebih laris,” jelasnya.
Terkait retribusi pedagang, Damar mengungkapkan, sudah sekitar enam tahun ini pedagang tidak membayar retribusi. Padahal, seharusnya setiap lahan pemerintah yang dipakai untuk berwirausaha seyogyanya berkontribusi atas pendapatan asli daerah (PAD).
“Setelah penataan nanti, kita tata juga asal pedagangnya. Kita prioritaskan pedagang lokal Kota Magelang dan hanya boleh menempati satu kios saja. Kalau sekarang katanya ada pedagang yang menempati empat kios,” paparnya.
Sementara itu, Ketua Pokdarwis sekaligus paguyuban pedagang, Surono mengutarakan, apa yang diasosiasikan Pemkot Magelang ini akan dirapatkannya dengan para pedagang lain. Keputusan pun akan dilakukannya secara bersama-sama.
“Saya kan cuma ketua pengganti, nanti kita putuskan bersama-sama. Apalagi, pedagangnya kan ada juga yang dari Kabupaten Magelang, sedangkan Bapak Wali Kota tadi ingin memprioritaskan warga kota dulu,” tuturnya.
Dia menyebutkan, jumlah kios ada sekitar 140, sedangkan yang aktif hanya sekitar 40 pedagang. Banyak yang tutup, karena memang tidak laku sejak jaman Covid-19.
“Apalagi, alur pengunjung tidak lewat sini, dari parkiran di atas langsung ke TKL. Jumlah pengunjung juga tidak banyak, sepi,” akunya.
Surono mengaku sejak tahun 2012 menempati tidak membayar retribusi. Pihaknya hanya membayar iuran untuk kebersihan dan sampah.
“Kalau saya pribadi dengan penataan nanti harapannya pengunjung bisa lebih ramai, sehingga dagangan laris,” ungkapnya. (H88)
























































