Kira- kira Apa Yang Dilakukan “Raja Keraton Agung Sejagat ” di Gunung Tidar ?

RAJA: Pimpinan Keraton Agung Sejagad, Totok Santosa Hadiningrat


MAGELANG, SM Network – Munculnya klaim “Raja” Keraton Agung Sejagat, Toto Santoso (42) masih ramai dibicarakan. Ternyata, sekitar bulan Mei 2019 lalu, Toto dan sejumlah pengikutnya pernah melakukan Ruwat Mataram Bumi Mandala di Gunung Tidar, Kota Magelang.
Seperti dituturkan Heri Setyawan (50), petugas jaga di Gunung Tidar. Ia menuturkan, dalam ruwatan tersebut, seingatnya, Toto Santoso bersama Fanni Aminadia (41), memakai pakaian kebesaran. Sementara para pengikutnya terdiri dari perempuan dan laki-laki. Yang laki-laki ada yang memakai pakaian ala prajurit, ada juga yang memakai jubah warna putih.

Sementara yang perempuan ada yang memakai pakaian prajurit dan ada juga yang memakai kebaya. Sebelum melangsungkan ruwatan, kata Heri, dari bawah hingga naik puncak Gunung Tidar melakukan mereka arak-arakan dengan diiringi musik drum band. Warga sekitar Gunung Tidar yang mendengar ada musik drum band tersebut sempat berdatangan untuk melihatnya. Bahkan, ada juga yang memfoto dan memvideo. 

Bacaan Lainnya


“Ruwatan tersebut dilangsungkan malam hari hingga dini hari,” ujarnya, Rabu (15/1).
Dia mengaku kaget saat lihat televisi dan ramai ada berita raja tersebut. “Lho itu kan yang dulu naik, namanya Romo Toto. Pakaiannya persis mirip yang di TV itu. Saya terus lihat HP, coba lihat foto-foto ternyata sudah kehapus,” akunya.

Puluhan Ekor Ayam

Heri menuturkan, dalam ruwatan itu, rombongan sempat memotong beberapa puluh ekor ayam, kemudian darahnya dikubur di sekeliling Tugu Sa yang berada di puncak Gunung Tidar. Selain itu, mengadakan doa bersama dan ada rebutan tumpengan.   “Di atas motong ayam. Terus darahnya dikubur sekeliling tugu,” tuturnya.


Namun, saat itu ia merasa janggal karena para pengikutnya datang dari mana-mana. Untuk itu, ia sempat memfoto-foto kegiatan ruwatan. “Rasanya janggal saja, keraton kok pengikutnya datang dari mana-mana. Setelah bubaran itu, saya sempat membersihkan dapat seekor ayam, terus saya kasihkan tetangga,” ungkapnya. 


Sementara itu, juru kunci Gunung Tidar, Sutijah mengaku, saat itu hanya mendengar ada ramai-ramai di sekitar lapangan puncak Gunung Tidar. Kendati demikian, ia tidak tahu persis, ramai-ramai tersebut dari kelompok raja tersebut atau dari kelompok lain. “Malam itu, kami mendengar ada ramai-ramai, tapi tidak tahu siapa yang mengadakan,” tandasnya.


Asef Amani

Pos terkait

Tinggalkan Balasan