Lengger Lanang, Tarian Yang Kian Terlupakan

ilustrasi

WONOSOBO, SM Network – Wonosobo tak hanya dikenal pelancong sebagai kota dengan keindahan alamnya. Berbagai peninggalan sejarah dan budaya yang melekat di masyarakat sampai kini masih dipertahankan.

Namun sayang, budaya yang dulunya menjadi kesenian rakyat dan simbol keberagaman kini semakin terkikis oleh zaman, salah satunya adalah lengger lanang yang konon telah hidup sejak pertengahan abad 17.

Pada zaman dulu, tarian khas jawa tersebut tidak diperankan oleh wanita seperti yang diperagakan hampir semua penari lengger yang sampai kini masih bertahan, melainkan diperankan oleh seorang pria yang mengenakan baju khas wanita jawa dengan dandanan layakanya seorang wanita.

Salah satu budayawan Wonosobo, Agus Wuryanto mengatakan, menurut beberapa sumber awal mula tarian lengger memang diperankan oleh laki-laki. Hal ini terjadi karena adanya keyakinan bahwa penari pria tidak mengalami masa haid maka akan selalu dalam keadaan suci mengingat peran seni tradisi ini sebagai media religius maupun media hiburan.

Sementara alasan yang lain mengatakan, bahwa adanya penari ini dikarenakan tidak ada penari wanita dimasa perang, sehingga saat prajurit ingin mengadakan hiburan maka salah satu prajurit harus bersedia memerankan diri sebagai penari lengger dan berbusana layaknya wanita cantik yang melenggak lenggok mneggunakan seutas selendang.

Menurut penuturanya awal mula lengger diperankan oleh seorang wanita terjadi pada tahun 1970-an di desa Gianti, kecamatan Selomerto. Bermula dari keresahan penggiat lengger desa tersebut melihat semakin sedikitnya peminat lengger lanang karena dianggap kurang menarik.

Meski demikian sampai saat ini kelestarian lengger lanang masih dipertahankan dibeberapa desa di kabupaten Wonosobo seperti desa Lengkong, Dawuhan, Lokabaya dan Gianti di kecamatan Selomerto.

Namun sangat disayangkan banyak peninggalan bersejarah seperti topeng kuno, peralatan musik gaya lama dan peralatan pertunjukan lain yang telah dimusnahkan ketika meletusnya gerakan 30 September 1965 oleh PKI atau yang lebih di kenal dengan G30SPKI.”Akibatnya sekarang sangat sulit ditemukan peninggalan-peninggalan bersejarah tersebut,”ungkapnya.


Adib Annas M

Pos terkait

Tinggalkan Balasan