{"id":378,"date":"2026-01-20T06:37:38","date_gmt":"2026-01-20T06:37:38","guid":{"rendered":"https:\/\/suaramerdekakedu.com\/?p=378"},"modified":"2026-01-20T06:44:34","modified_gmt":"2026-01-20T06:44:34","slug":"puluhan-ribu-hektare-lahan-di-wonosobo-kritis-praktik-pertanian-konservasi-mendesak-dilakukan-wonosobo-suaramerdeka-com-isu-lahan-kritis-menjadi-tantangan-lingkungan-serius-yang-kini-teng","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/suaramerdekakedu.com\/index.php\/2026\/01\/20\/puluhan-ribu-hektare-lahan-di-wonosobo-kritis-praktik-pertanian-konservasi-mendesak-dilakukan-wonosobo-suaramerdeka-com-isu-lahan-kritis-menjadi-tantangan-lingkungan-serius-yang-kini-teng\/","title":{"rendered":"Puluhan Ribu Hektare Lahan di Wonosobo Kritis, Praktik Pertanian Konservasi Mendesak Dilakukan"},"content":{"rendered":"<p class=\"_aupe copyable-text x15bjb6t x1n2onr6\"><span class=\"_aupe copyable-text xkrh14z\"><strong>WONOSOBO, suaramerdekakedu.com-<\/strong> Isu lahan kritis menjadi tantangan lingkungan serius yang kini tengah dihadapi Pemerintah Kabupaten Wonosobo dihadapi Pemerintah Kabupaten Wonosobo. Berdasarkan data Balai Pengelolaan Daerah Aliran Sungai (BPDAS), tercatat seluas 36.842 hektare lahan di wilayah ini masuk dalam kategori kritis, atau setara dengan 2,6 persen dari total luas Kabupaten Wonosobo.<\/span><\/p>\n<p class=\"_aupe copyable-text x15bjb6t x1n2onr6\"><span class=\"_aupe copyable-text xkrh14z\">Kepala Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kabupaten Wonosobo, Endang Lisdyaningsih, menjelaskan bahwa indikator lahan kritis tersebut merujuk pada standar kehutanan, di mana idealnya dalam satu hektare lahan terdapat minimal 400 tanaman kayu.<\/span><\/p>\n<p class=\"_aupe copyable-text x15bjb6t x1n2onr6\"><strong><span class=\"_aupe copyable-text xkrh14z\">Hortikultura Jadi Penyumbang Terbesar<\/span><\/strong><\/p>\n<p class=\"_aupe copyable-text x15bjb6t x1n2onr6\"><span class=\"_aupe copyable-text xkrh14z\">Menariknya, Endang menyebut bahwa dominasi lahan kritis di Wonosobo bukan berasal dari kawasan hutan yang beralih fungsi, melainkan dari sektor pertanian dan hortikultura. Penanaman tanaman semusim seperti kentang secara monokultur dinilai memicu risiko erosi yang tinggi.<\/span><\/p>\n<p class=\"_aupe copyable-text x15bjb6t x1n2onr6\"><span class=\"_aupe copyable-text xkrh14z\">&#8220;Sebagian besar berada pada lahan pertanian atau hortikultura. Kondisi ini memperparah sedimentasi dan menurunkan kualitas tanah dalam jangka panjang,&#8221; ujar Endang dalam keterangannya, Senin (19\/1).<\/span><\/p>\n<p class=\"_aupe copyable-text x15bjb6t x1n2onr6\"><span class=\"_aupe copyable-text xkrh14z\">Sebagai solusi, Pemkab Wonosobo melalui DLH terus mendorong penerapan pertanian konservasi. Langkah teknis seperti pembangunan rolak buntu, terjunan bangku, hingga pola tanam tumpang sari (sistem lorong) mulai digalakkan agar produktivitas ekonomi tetap berjalan beriringan dengan kekuatan struktur tanah.<\/span><\/p>\n<p class=\"_aupe copyable-text x15bjb6t x1n2onr6\"><strong><span class=\"_aupe copyable-text xkrh14z\">Alarm Penurunan Sumber Mata Air<\/span><\/strong><\/p>\n<p class=\"_aupe copyable-text x15bjb6t x1n2onr6\"><span class=\"_aupe copyable-text xkrh14z\">Kondisi lingkungan di Wonosobo saat ini dinilai cukup mengkhawatirkan, terutama jika menilik indikator sumber mata air. DLH mencatat adanya penurunan jumlah, kualitas, hingga debit air di berbagai titik. Hal ini menjadi alarm serius bagi keberlangsungan sektor pertanian dan pariwisata.<\/span><\/p>\n<p class=\"_aupe copyable-text x15bjb6t x1n2onr6\"><span class=\"_aupe copyable-text xkrh14z\">Merespons hal tersebut, DLH menjalankan program &#8220;Ngrumat Tuk&#8221;, yakni pemetaan sumber mata air di seluruh desa dan kelurahan pada 15 kecamatan. &#8220;Kami ingin desa memahami wilayah tangkapan air mana yang wajib dilindungi. Hasil pemetaan ini nantinya akan diperkuat melalui Peraturan Desa (Perdes) perlindungan sumber mata air,&#8221; lanjutnya.<\/span><\/p>\n<p class=\"_aupe copyable-text x15bjb6t x1n2onr6\"><strong><span class=\"_aupe copyable-text xkrh14z\">Keseimbangan Ekonomi dan Lingkungan<\/span><\/strong><\/p>\n<p class=\"_aupe copyable-text x15bjb6t x1n2onr6\"><span class=\"_aupe copyable-text xkrh14z\">Terkait tren pembangunan homestay seiring meningkatnya pariwisata, khususnya di kawasan Menjer, Pemkab Wonosobo terus melakukan penataan lintas dinas yang dikoordinasikan oleh Sekretaris Daerah. Meskipun belum ada kajian khusus mengenai kontribusi homestay terhadap lahan kritis, pengawasan tata guna lahan tetap mengacu pada Rencana Tata Ruang Wilayah (RTRW).<\/span><\/p>\n<p class=\"_aupe copyable-text x15bjb6t x1n2onr6\"><span class=\"_aupe copyable-text xkrh14z\">Dalam Rencana Pembangunan Jangka Panjang Daerah (RPJPD), Wonosobo telah menetapkan tema agrobisnis dan pariwisata berkelanjutan. DLH berkomitmen mengawal kebijakan ini melalui Kajian Lingkungan Hidup Strategis (KLHS) agar eksploitasi ekonomi tidak merusak ekosistem.<\/span><\/p>\n<p class=\"_aupe copyable-text x15bjb6t x1n2onr6\"><span class=\"_aupe copyable-text xkrh14z\">&#8220;Kebijakan lingkungan harus menyeimbangkan kebutuhan ekonomi masyarakat. Kami menggandeng berbagai pihak, mulai dari komunitas basecamp, Perhutani, hingga relawan untuk melakukan maraton konservasi, terutama di wilayah ketinggian di atas 1.000 meter,&#8221; pungkas Endang. (HIL)<\/span><\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>WONOSOBO, suaramerdekakedu.com- Isu lahan kritis menjadi tantangan lingkungan serius yang kini tengah dihadapi Pemerintah Kabupaten Wonosobo dihadapi Pemerintah Kabupaten Wonosobo. Berdasarkan data Balai Pengelolaan Daerah Aliran Sungai (BPDAS), tercatat seluas 36.842 hektare lahan di wilayah ini masuk dalam kategori kritis, atau setara dengan 2,6 persen dari total luas Kabupaten Wonosobo. Kepala Dinas Lingkungan Hidup (DLH) [&hellip;]<\/p>\n","protected":false},"author":1,"featured_media":379,"comment_status":"open","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"footnotes":""},"categories":[4],"tags":[],"class_list":["post-378","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-wonosobo"],"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/suaramerdekakedu.com\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/378","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/suaramerdekakedu.com\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/suaramerdekakedu.com\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/suaramerdekakedu.com\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/users\/1"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/suaramerdekakedu.com\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=378"}],"version-history":[{"count":2,"href":"https:\/\/suaramerdekakedu.com\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/378\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":385,"href":"https:\/\/suaramerdekakedu.com\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/378\/revisions\/385"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/suaramerdekakedu.com\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/media\/379"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/suaramerdekakedu.com\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=378"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/suaramerdekakedu.com\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=378"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/suaramerdekakedu.com\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=378"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}