{"id":372,"date":"2026-01-20T06:04:40","date_gmt":"2026-01-20T06:04:40","guid":{"rendered":"https:\/\/suaramerdekakedu.com\/?p=372"},"modified":"2026-01-20T06:04:40","modified_gmt":"2026-01-20T06:04:40","slug":"tren-tingwe-di-kalangan-milenial-cara-anak-muda-temanggung-tetap-ngebul-di-tengah-mahalnya-rokok","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/suaramerdekakedu.com\/index.php\/2026\/01\/20\/tren-tingwe-di-kalangan-milenial-cara-anak-muda-temanggung-tetap-ngebul-di-tengah-mahalnya-rokok\/","title":{"rendered":"Tren Tingwe di Kalangan Milenial: Cara Anak Muda Temanggung Tetap &#8220;Ngebul&#8221; di Tengah Mahalnya Rokok"},"content":{"rendered":"<p class=\"_aupe copyable-text x15bjb6t x1n2onr6\"><strong><span class=\"_aupe copyable-text xkrh14z\">TEMANGGUNG, suaramerdekakedu.com<\/span><\/strong><span class=\"_aupe copyable-text xkrh14z\"><strong>\u2013<\/strong> Budaya tingwe atau nglinting dhewe (melinting sendiri), yang selama ini identik dengan kebiasaan kaum tua di pelosok desa, kini mengalami pergeseran tren. Di tangan anak muda, khususnya di wilayah &#8220;Kota Tembakau&#8221; Temanggung dan kota pelajar Yogyakarta, aktivitas melinting tembakau justru menjadi gaya hidup baru sekaligus solusi ekonomi di tengah meroketnya harga rokok pabrikan.<\/span><\/p>\n<p class=\"_aupe copyable-text x15bjb6t x1n2onr6\"><span class=\"_aupe copyable-text xkrh14z\">Secara historis, kebiasaan melinting tembakau memang telah berakar kuat sejak akhir abad ke-15. Dalam catatan Lance Castles melalui bukunya Industri Rokok Kudus (1982), tingwe sempat menjadi simbol rakyat kelas bawah pada masa kolonial karena ketidakmampuan membeli rokok pabrikan. Namun kini, stigma &#8220;rokok orang tua&#8221; itu perlahan luntur.<\/span><\/p>\n<p class=\"_aupe copyable-text x15bjb6t x1n2onr6\"><strong><span class=\"_aupe copyable-text xkrh14z\">Momentum Pandemi<\/span><\/strong><\/p>\n<p class=\"_aupe copyable-text x15bjb6t x1n2onr6\"><span class=\"_aupe copyable-text xkrh14z\">Juru Bicara Komunitas Kretek, Khoirul Atfifudin, mengungkapkan bahwa kebangkitan tren tingwe di kalangan anak muda mendapat momentum besar saat pandemi Covid-19 melanda. Kebijakan pembatasan sosial memberikan ruang bagi para perokok muda untuk mengeksplorasi cara menikmati tembakau secara mandiri.<\/span><\/p>\n<p class=\"_aupe copyable-text x15bjb6t x1n2onr6\"><span class=\"_aupe copyable-text xkrh14z\">&#8220;Dulu, anak muda di Temanggung mungkin masih malu-malu membawa tembakau saat nongkrong. Mereka lebih memilih rokok pabrikan. Namun pasca-pandemi, tingwe seolah mendapat tempat di hati perokok muda,&#8221; ujar Atfi.<\/span><\/p>\n<p class=\"_aupe copyable-text x15bjb6t x1n2onr6\"><span class=\"_aupe copyable-text xkrh14z\">Senada dengan hal tersebut, Tatag Dhian (30), seorang pemasok tembakau asal Temanggung, mengakui adanya peningkatan permintaan tembakau untuk area Yogyakarta selama masa pandemi. Hal ini sekaligus menjadi angin segar bagi para petani tembakau yang sempat terdampak lesunya penjualan pada awal 2020.<\/span><\/p>\n<p class=\"_aupe copyable-text x15bjb6t x1n2onr6\"><strong><span class=\"_aupe copyable-text xkrh14z\">Faktor Ekonomi dan Personalisasi Rasa<\/span><\/strong><\/p>\n<p class=\"_aupe copyable-text x15bjb6t x1n2onr6\"><span class=\"_aupe copyable-text xkrh14z\">Bagi banyak mahasiswa dan pekerja muda, beralih ke swalinting adalah strategi bertahan hidup atau &#8220;jalan ninja&#8221; menghadapi kenaikan pita cukai rokok. Oteng (19), seorang mahasiswa asal Salamsari, Kedu, yang kini menempuh studi di Yogyakarta, menyebut faktor efisiensi biaya sebagai alasan utama.<\/span><\/p>\n<p class=\"_aupe copyable-text x15bjb6t x1n2onr6\"><span class=\"_aupe copyable-text xkrh14z\">&#8220;Harga rokok sekarang sudah di atas Rp25 ribu per bungkus. Jika seminggu habis empat bungkus, pengeluaran mencapai Rp100 ribu. Dengan tingwe, modal Rp50 ribu sudah cukup untuk kebutuhan hampir dua minggu,&#8221; ungkap anak petani tembakau ini.<\/span><\/p>\n<p class=\"_aupe copyable-text x15bjb6t x1n2onr6\"><span class=\"_aupe copyable-text xkrh14z\">Selain urusan dompet, aspek &#8220;seni&#8221; dalam mencampur tembakau juga menjadi daya tarik tersendiri. Para penikmat tingwe merasa memiliki kebebasan untuk mengatur rasa sesuai suasana hati (mood).<\/span><\/p>\n<p class=\"_aupe copyable-text x15bjb6t x1n2onr6\"><span class=\"_aupe copyable-text xkrh14z\">&#8220;Kalau rokok pabrikan rasanya flat, itu-itu saja. Dengan tingwe, kita bisa memilih jenis tembakau, berat atau ringannya hisapan, hingga campurannya. Tidak ada rasa bosan karena kita yang menentukan takarannya sendiri,&#8221; tambah Atfi.<\/span><\/p>\n<p class=\"_aupe copyable-text x15bjb6t x1n2onr6\"><span class=\"_aupe copyable-text xkrh14z\">Fenomena ini membuktikan bahwa tingwe bukan lagi sekadar warisan masa lalu yang usang, melainkan sebuah bentuk adaptasi budaya dan ekonomi yang kembali relevan di tangan generasi muda. (HIL)<\/span><\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>TEMANGGUNG, suaramerdekakedu.com\u2013 Budaya tingwe atau nglinting dhewe (melinting sendiri), yang selama ini identik dengan kebiasaan kaum tua di pelosok desa, kini mengalami pergeseran tren. Di tangan anak muda, khususnya di wilayah &#8220;Kota Tembakau&#8221; Temanggung dan kota pelajar Yogyakarta, aktivitas melinting tembakau justru menjadi gaya hidup baru sekaligus solusi ekonomi di tengah meroketnya harga rokok pabrikan. [&hellip;]<\/p>\n","protected":false},"author":1,"featured_media":373,"comment_status":"open","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"footnotes":""},"categories":[5],"tags":[],"class_list":["post-372","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-temanggung"],"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/suaramerdekakedu.com\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/372","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/suaramerdekakedu.com\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/suaramerdekakedu.com\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/suaramerdekakedu.com\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/users\/1"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/suaramerdekakedu.com\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=372"}],"version-history":[{"count":1,"href":"https:\/\/suaramerdekakedu.com\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/372\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":374,"href":"https:\/\/suaramerdekakedu.com\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/372\/revisions\/374"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/suaramerdekakedu.com\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/media\/373"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/suaramerdekakedu.com\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=372"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/suaramerdekakedu.com\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=372"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/suaramerdekakedu.com\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=372"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}