SUARAMERDEKA, BANJARNEGARA – Warga di wilayah Kecamatan Wanayasa, khususnya Desa Bantar dan Desa Kubang, Banjarnegara, diliputi kecemasan luar biasa dalam sepekan terakhir.
Fenomena getaran tanah berulang yang tidak tercatat dalam sensor gempa nasional mulai terjawab setelah otoritas terkait melakukan kajian cepat di lokasi kejadian.
Rentetan getaran mulai dirasakan warga Dusun Jomblang (Desa Kubang) dan Desa Bantar sejak 10 Februari 2026. Menurut Misman, seorang warga Dusun Jomblang, guncangan pertama terjadi sekitar pukul 20.00 WIB dan berlanjut hingga dini hari.
“Awalnya kami anggap biasa, tapi sekarang makin sering dan warga mulai panik. Rasanya bukan bergoyang ke samping, tapi seperti tanah amblas ke bawah,” ujar Misman kepada Media , Rabu (18/2/2026).
Intensitas getaran mencapai puncaknya pada malam 16 Februari hingga dini hari 17 Februari 2026. Warga melaporkan merasakan guncangan hingga 5 kali dalam semalam.
Kecemasan meningkat karena meskipun warga merasakan getaran nyata dan mendengar suara dentuman dari dalam tanah, informasi resmi dari BMKG pada saat itu menyatakan tidak ada aktivitas gempa tektonik yang terekam.
Merespons laporan tersebut, tim gabungan dari BPBD Banjarnegara dan BMKG melakukan kajian pada Rabu, 18 Februari 2026.
Tim yang dipimpin oleh Kabid Rehabilitasi dan Rekonstruksi BPBD Banjarnegara, Ir. Junaedi, mengungkap beberapa temuan krusial yaitu Kondisi Geologi di Wilayah Bantar berada di atas Formasi Rambatan yang terdiri dari lapisan serpih, napal, dan batupasir dengan ketebalan mencapai 300 meter.
Lapisan ini berada di bawah Formasi Gunungapi Jembangan.
Analisis geologi juga menunjukkan adanya aktivitas patahan atau sesar aktif di bawah permukaan. Suara dentuman dan getaran “amblas” yang dirasakan warga diduga berasal dari pelepasan energi pada lapisan batuan di bawah Formasi Rambatan.
Junaedi menambahkan, Faktor Lingkungan serta Intensitas hujan yang tinggi dalam durasi lama diduga menjadi pemicu (trigger).
“Air hujan yang meresap meningkatkan beban massa batuan dan melumasi bidang patahan, sehingga memicu pergeseran, ” Ujar Junaedi
Karena skala gempa yang sangat lokal dan berada di kedalaman dangkal namun teredam lapisan batuan tebal, sensor jarak jauh milik BMKG dan PVMBG tidak menangkap sinyal tersebut sebagai gempa tektonik besar.
Meski sebelumnya sempat dianggap tidak terekam, Pos Pengamatan Gunung Api (PPGA) Dieng merilis data getaran yang tercatat pada alat mereka di periode kritis:16 Feb (22.06 WIB): Gempa Tektonik Jauh (Amplitudo 8mm).17 Feb (03.20 WIB): Gempa Tektonik Lokal (Amplitudo 42.7, Durasi 46 detik).Data ini mengonfirmasi bahwa memang terjadi aktivitas seismik lokal yang cukup kuat untuk dirasakan warga namun bersumber sangat dekat.
Guna memberikan rasa aman dan data yang lebih akurat, BMKG telah memasang seismograf portabel di tiga titik strategis yaitu di SDN 1 Bantar, Rumah Kepala Desa Bantar, Dusun Jomblang, Desa Kubang.
BPBD Banjarnegara mengimbau masyarakat untuk tetap tenang namun waspada. Warga diminta segera melapor jika menemukan rekahan tanah baru, amblasan, atau kerusakan bangunan.
Selain itu, masalah 22 rumah yang rusak sejak 2022 dan sedang dalam proses usulan relokasi tetap menjadi prioritas meskipun masih terkendala pengadaan lahan.
“Hingga saat ini, tim gabungan terus memantau pergerakan tanah di bawah kaki gunung tersebut untuk mengantisipasi potensi gempa susulan atau gerakan tanah yang lebih masif,” kata Junaedi


















































