TEMANGGUNG, suaramerdekakedu.com– Potensi wisata alam Watu Layah dan Watu Angkrik di Desa Tlogopucang, Kecamatan Kandangan, kini kondisinya memprihatinkan. Destinasi yang sempat menjadi primadona tersebut terpantau terbengkalai dan mengalami kerusakan parah selama hampir enam tahun terakhir, tepatnya sejak tahun 2020 hingga saat ini.
Ketidakjelasan regulasi dan ego sektoral antara pihak-pihak terkait ditengarai menjadi pemicu utama matinya denyut nadi pariwisata di desa tersebut. Hingga kini, belum ada payung hukum yang kuat, seperti Peraturan Desa (Perdes) berbadan hukum, yang mengatur Standar Operasional Prosedur (SOP) maupun sistem bagi hasil yang adil.
Akar Permasalahan
Kepala Dusun setempat, Atchani (52), mengungkapkan bahwa terbengkalainya kedua objek wisata ini berawal dari kerumitan status lahan dan hak pengelolaan. Menurutnya, ada ketidaksinkronan visi antara pihak swasta selaku pemilik tanah dengan pihak pendukung lainnya.
Terbengkalainya Watu Layah dan Watu Angkrik disebabkan oleh rasa ingin memiliki sepenuhnya oleh pihak swasta selaku pemilik tanah. Hal ini memicu ketegangan dengan pihak Perhutani dan Pemdes Tlogopucang yang selama ini memberikan dukungan material,” ujar Atchani saat ditemui di lokasi.
Ia menambahkan, ketegangan ini diperparah oleh ketiadaan regulasi tertulis yang mengikat. Selama ini tidak ada aturan seperti Perdes yang berbadan hukum jelas untuk mengatur SOP dan pembagian hasil antara Pemdes, Perhutani, dan pihak swasta. Akibatnya, semua pihak merasa memiliki hak namun tidak ada landasan hukum yang mengatur kewajiban masing-masing,” imbuhnya.
Dampak Ekonomi yang Luas
Mangkraknya kedua destinasi ini membawa dampak domino yang merugikan banyak pihak. Berdasarkan pantauan di lapangan, sejumlah fasilitas penunjang wisata tampak rusak dan ditumbuhi semak belukar.
Dampak nyata yang dirasakan antara lain:
- Hilangnya Pendapatan Desa: Pemdes Tlogopucang kehilangan salah satu potensi Pendapatan Asli Desa (PADes) terbesar dari sektor pariwisata.
- Lumpuhnya UMKM: Puluhan pedagang dan pelaku UMKM yang dulu menggantungkan hidup dengan berjualan di sekitar lokasi wisata kini kehilangan mata pencaharian.
- Kerugian Investasi: Pihak Pemdes, Perhutani, maupun pihak swasta sendiri mengalami kerugian materiil akibat investasi bangunan dan fasilitas yang kini hancur tak terawat.
Kini, masyarakat berharap ada duduk perkara bersama untuk merumuskan regulasi yang jelas agar aset wisata yang indah ini tidak sekadar menjadi monumen kerusakan, melainkan kembali menjadi penggerak ekonomi warga Tlogopucang. (hil)

















































