NASIONAL, kedu.suaramerdeka.com – Tren penguatan harga emas global diprediksi masih akan berlanjut di sepanjang tahun 2026. Setelah sempat menyentuh rekor tertinggi di level US$4.400 pada Oktober lalu, sejumlah analis bahkan melontarkan proyeksi fantastis bahwa harga logam mulia tersebut berpotensi menembus angka US$10.000 per ons atau setara Rp 168,33 juta.Meskipun sempat terjadi koreksi pada bulan November, para pelaku pasar menilai hal tersebut sebagai penyesuaian yang sehat.
Momentum kenaikan harga diyakini masih terjaga, terutama setelah emas berhasil melewati uji resistance di level US$4.200.Analis BossaFX, Marek Rogalski, berpendapat bahwa pelemahan yang terjadi baru-baru ini hanyalah dinamika pasar biasa.”Menurutnya, dalam konteks yang lebih luas, peluang emas menembus rekor tertinggi baru di atas US$4.400 hanya tinggal menunggu waktu,” tulis laporan tersebut mengutip pandangan Rogalski.Ia juga menambahkan bahwa ekspektasi kebijakan moneter Amerika Serikat menjadi faktor kunci.”
Rogalski juga menyebut pasar mulai memperhitungkan potensi pemangkasan suku bunga oleh Federal Reserve pada 10 Desember. Ekspektasi tersebut dinilai dapat menjadi katalis jangka pendek bagi penguatan harga emas berikutnya.”Katalis Makroekonomi dan TeknisSejalan dengan pandangan teknikal, pelemahan mata uang dolar AS menjadi angin segar bagi komoditas emas. Chief Investment Officer Century Financial, Vijay Valecha, menyoroti pengaruh dari suksesi kepemimpinan di Bank Sentral AS.”Valecha menilai ekspektasi kebijakan akomodatif pada 2026 akan menekan dolar AS dan secara alami mengangkat harga emas. Kondisi ini dinilai tetap mendukung tren naik emas meski terjadi aksi ambil untung jangka pendek,” jelasnya.
Skenario Risiko EkstremProyeksi yang lebih progresif datang dari Saxo Bank melalui laporan bertajuk “Outrageous Predictions 2026″. Bank investasi tersebut memaparkan skenario risiko ekstrem yang bisa memicu lonjakan harga emas secara eksponensial. Salah satu isu utama yang diangkat adalah kemunculan komputasi kuantum yang berpotensi melumpuhkan sistem keamanan digital dunia.”Dalam skenario tersebut, kepercayaan terhadap aset digital dan sistem perbankan tradisional dapat runtuh sehingga emas diproyeksikan melesat hingga US$10.000 per ons.
Saxo menilai emas akan menjadi aset utama tanpa risiko digital di tengah krisis kepercayaan global,” tulis laporan Saxo Bank.Selain faktor teknologi, pergeseran geopolitik ekonomi juga memainkan peran penting. Muncul skenario di mana Tiongkok kemungkinan besar akan memperkuat posisi yuan offshore dengan cadangan emas guna menantang dominasi dolar AS.”Jika hal itu terjadi, harga emas diperkirakan dapat menembus level US$6.000 dan berperan sebagai jangkar moneter global kedua,” pungkas laporan tersebut. (hil)
















































