NASIONAL, kedu.suaramerdeka.com – Tren pelemahan nilai tukar Rupiah yang kini mulai mendekati ambang batas Rp17.000 per Dolar AS memicu kekhawatiran serius terhadap stabilitas ekonomi nasional. Kondisi ini dipicu oleh kombinasi tekanan global, termasuk ketidakpastian kebijakan ekonomi Amerika Serikat dan sentimen pasar yang cenderung menghindari risiko (risk-off).
Sejumlah pengamat ekonomi memperingatkan bahwa jika mata uang Garuda benar-benar menembus level Rp17.000, terdapat beberapa risiko besar yang akan berdampak langsung pada masyarakat dan industri:
1. Lonjakan Inflasi Barang Impor (Imported Inflation)
Dampak yang paling cepat dirasakan adalah kenaikan harga barang-barang yang bahan bakunya masih bergantung pada impor. Sektor pangan seperti kedelai, gandum (tepung-tepungan), serta produk elektronik dan otomotif diprediksi akan mengalami kenaikan harga. Hal ini otomatis menekan daya beli masyarakat yang saat ini sudah mulai terbatas.
2. Beban Subsidi Energi Membengkak
Sebagai negara net importer bahan bakar minyak (BBM), pelemahan Rupiah membuat biaya pengadaan energi semakin mahal. Jika kurs terus melandai, beban APBN untuk menambal subsidi energi akan membengkak secara signifikan. Kondisi ini memaksa pemerintah berada pada pilihan sulit: menambah defisit anggaran atau menyesuaikan harga energi domestik.
3. Tekanan pada Dunia Usaha dan Utang Luar Negeri
Bagi sektor industri, kenaikan Dolar AS berarti kenaikan biaya produksi. Di sisi lain, korporasi yang memiliki utang dalam mata uang asing akan menghadapi beban cicilan dan bunga yang jauh lebih berat dalam konversi Rupiah. Jika tidak dimitigasi, hal ini berisiko mengganggu aliran kas perusahaan dan memicu efisiensi tenaga kerja.
4. Respons Moneter dan Suku Bunga
Untuk mengerem pelarian modal asing (capital outflow), Bank Indonesia kemungkinan besar akan tetap mempertahankan atau bahkan menaikkan suku bungan acuan (BI Rate). Meski bertujuan menstabilkan Rupiah, kenaikan suku bunga akan berdampak pada mahalnya biaya kredit perbankan, baik untuk konsumsi (KPR/Kredit Kendaraan) maupun modal kerja bagi pengusaha.
Kesimpulan dan Harapan
Para ahli menekankan bahwa level Rp17.000 lebih mencerminkan sentimen psikologis dan dinamika pasar modal global ketimbang kelemahan struktural ekonomi Indonesia. Namun, langkah intervensi dari Bank Indonesia di pasar spot dan domestik NDF tetap krusial untuk menjaga agar Rupiah tidak terperosok lebih dalam dan menciptakan kepanikan pasar yang lebih luas.
















































