TEMANGGUNG, suaramerdekakedu.com– Meski dikenal memiliki panorama alam yang memikat mata, terutama kemegahan Gunung Sindoro dan Sumbing, warga lokal Kabupaten Temanggung justru cenderung memilih menghabiskan waktu libur mereka ke luar daerah. Fenomena ini muncul akibat kejenuhan serta terbatasnya fasilitas hiburan dan pusat perbelanjaan di Kota Tembakau tersebut.
Bagi wisatawan luar daerah, Temanggung adalah magnet. Tak jarang, pelancong rela berangkat pukul 02.00 dini hari demi mengejar momentum sunrise. Namun, bagi warga lokal, keindahan tersebut kini kerap terganggu oleh hiruk-pikuk wisatawan yang kurang tertib.
Kendala Kenyamanan dan Kejenuhan
Salah seorang warga lokal, Raychan Assabiq, mengungkapkan bahwa warga Temanggung kini sering harus “mengalah” terhadap membludaknya wisatawan. Salah satu pemicunya adalah parkir kendaraan wisatawan yang sembarangan di pinggir jalan, yang justru mengurangi kenyamanan warga untuk menikmati alam mereka sendiri.
“Pemandangan Temanggung memang memanjakan mata, tapi ya sudah sampai di situ saja. Warga lokal lama-lama bosan dan ingin mencari pengalaman refreshing yang lebih hidup,” ujarnya.
Magnet Kota Pelajar
Jogja menjadi destinasi favorit utama bagi masyarakat Temanggung. Selain jarak yang relatif terjangkau, Jogja menawarkan paket lengkap mulai dari wisata kuliner, pusat perbelanjaan, hingga atmosfer kota yang lebih dinamis.
Perbedaan kualitas fasilitas publik dan pusat perbelanjaan menjadi faktor pembanding yang mencolok. Jika di Temanggung pusat perbelanjaan terbaik masih setara dengan minimarket, maka keberadaan pusat grosir seperti di Malioboro atau PGS Solo menjadi daya tarik tersendiri yang sulit ditemukan di daerah asal.
Fasilitas Publik Perlu Pembenahan
Kondisi fasilitas publik di Temanggung juga menjadi sorotan. Banyak potensi wisata tersembunyi (hidden gem) yang sebenarnya menjanjikan, namun terbengkalai dan tidak terawat. Akibatnya, warga merasa enggan untuk berkunjung karena khawatir tempat yang dituju sudah tidak beroperasi.
Kritik tajam juga mengarah pada kondisi Alun-alun Temanggung. Sebagai jantung kota yang seharusnya menjadi ruang publik yang hidup dan murah meriah, Alun-alun Temanggung justru dinilai sepi dan kurang berfungsi maksimal.
“Beberapa warga bahkan merasa alun-alun di pusat kota itu seperti kurang ‘nyawa’. Akhirnya, mereka lebih memilih merogoh kocek lebih dalam dan menempuh perjalanan jauh ke luar kota demi mendapatkan penyegaran pikiran yang nyata,” lanjutnya.
Kondisi ini menjadi tantangan bagi pemerintah daerah dan pemangku kepentingan di Temanggung untuk mulai membenahi tata kelola wisata dan fasilitas publik, agar warga lokal tidak sekadar menjadi penonton di tengah potensi alam yang luar biasa. (HIL)

















































