BOYOLALI, suaramerdekakedu.com – Kecamatan Selo, Kabupaten Boyolali, kembali membuktikan diri bukan sekadar destinasi pendakian, melainkan benteng pertahanan bagi kedaulatan agraria. Di tengah maraknya alih fungsi lahan menjadi objek wisata ugal-ugalan di berbagai daerah, masyarakat Selo tetap teguh menjadikan bertani sebagai prioritas utama dan enggan menjual tanah mereka kepada investor luar.
Dalam sebuah ekspedisi bersama Komunitas Kretek pada awal Mei lalu, tergambar bagaimana kehidupan masyarakat di lereng Merapi-Merbabu ini sangat bergantung pada tanaman tembakau, terutama saat musim kemarau. Bagi mereka, tembakau bukan sekadar komoditas, melainkan penyelamat ekonomi yang mampu menghidupi ribuan kepala keluarga ketika tanaman lain sulit bertahan.
Tradisi Inap Tanpa Tarif dan Jihad Menjaga Sawah
Keunikan sosial di Selo terlihat di Dusun Genting, Desa Tarubatang. Di sini, sebanyak 14 rumah warga dijadikan basecamp pendaki tanpa tarif menginap alias gratis. Warga memberikan ruang tidur mereka secara terbuka bagi siapa saja yang datang. Namun, keterbukaan ini memiliki batas tegas dalam hal kepemilikan lahan.
Berdasarkan kesepakatan warga, tanah di wilayah tersebut tidak boleh dijual kepada orang luar. Jika ada yang melanggar, muncul aturan adat di mana 50 persen hasil penjualan harus diserahkan kepada desa. Aturan tak tertulis ini efektif membendung masuknya modal besar yang ingin membangun vila atau resto yang berisiko mematikan sektor pertanian lokal.
Tembakau Sebagai “Benteng” Pembangunan
Kesejahteraan dari hasil tembakau di masa lalu, seperti pada tahun 2011 di Desa Surodadi di mana hampir setiap rumah mampu membeli mobil, menjadi pengingat bagi warga bahwa bertani adalah jalan kemakmuran. Tanpa tembakau, dikhawatirkan ribuan hektar lahan di Selo sudah berubah menjadi bangunan beton yang keuntungannya hanya dinikmati segelintir taipan, bukan masyarakat lokal.
Catatan Kritis Khoirul Atfifudin: Bertani Adalah Bentuk Perlawanan
Melalui catatan perjalanannya, Khoirul Atfifudin memberikan perspektif mendalam mengenai arti penting mempertahankan tanah kelahiran. Berikut adalah pendapatnya:
1. Menolak “Wisata Ugal-ugalan” demi Kemandirian Atfifudin memuji sikap masyarakat Selo yang tidak silau dengan pembangunan fasilitas wisata modern seperti yang terjadi di kota-kota besar. Ia melihat bahwa dengan tetap bertani, warga menjaga kemandirian mereka. Baginya, kunjungan wisatawan hanyalah “sampingan”, sementara kedaulatan sejati ada pada cangkul dan ladang.
2. Kritik atas Fasilitas Publik (Lampu Penerangan) Meskipun kagum dengan keteguhan warga, Atfifudin memberikan kritik keras kepada pemerintah terkait infrastruktur. Ia menyoroti jalur tembus Blabak-Boyolali sepanjang 15 km yang sangat minim lampu penerangan jalan. Kondisi jalan berkelok dengan jurang di kanan-kiri dinilai sangat membahayakan pengendara yang melintas di malam hari.
3. Filosofi “Jihad” di Desa Mengutip wejangan almarhum Prie GS, Atfifudin menegaskan bahwa tindakan warga Selo adalah bentuk jihad nyata.
“Menjaga sawah, merawatnya, dan tidak mudah menjualnya walau hasil panen kecil, adalah bentuk jihad yang bisa dilakukan warga desa,” tulisnya.
Bagi Atfifudin, kesetiaan petani Selo yang tidak mengenal kata resign meski dihantam berbagai regulasi anti-tembakau adalah bentuk ketenangan hati yang tidak bisa ditukar dengan nilai investasi manapun. (HIL)
















































