WONOSOBO, suaramerdekakedu.com – Ancaman sedimentasi di Telaga Menjer kini berada pada level yang mengkhawatirkan dan berpotensi mengganggu stabilitas operasional Pembangkit Listrik Tenaga Air (PLTA) Garung. Merespons kondisi tersebut, PT PLN Indonesia Power (IP) Mrica Power Generation Unit (PGU) tengah menyiapkan langkah strategis berupa pengerukan telaga yang dijadwalkan pada tahun 2026 mendatang.
General Manager PT PLN Indonesia Power Mrica PGU, Nazrul Very Andhy, menjelaskan bahwa laju sedimentasi saat ini tidak hanya dipicu oleh material alami, tetapi juga diperparah oleh aktivitas manusia di sekitar kawasan telaga. Selain lumpur, pihaknya mengidentifikasi adanya keberadaan kerang spesifik yang jika dibiarkan dapat menjadi pengotor serta mengganggu kinerja turbin air.
Beban Sampah Meningkat
Saat ini, PLTA Garung beroperasi dengan memanfaatkan debit air Telaga Menjer rata-rata sebesar 9 meter kubik per detik. Namun, operasional ini kerap terkendala oleh tingginya beban sampah yang masuk ke area kabin air.
“Tekanan dari luar kawasan telaga sangat besar. Dalam sekali pembersihan, volume sampah yang tertahan bisa mencapai 80 sak, sementara kapasitas pengangkutan kami terbatas. Jika terjadi longsor di lereng sekitarnya, material akan menumpuk di pintu air dan berdampak serius pada pasokan energi listrik,” jelas Nazrul, Senin (19/1).
Terkait isu yang beredar di media sosial mengenai dugaan kebocoran pipa milik Indonesia Power sebagai penyebab longsor, Nazrul secara tegas membantah hal tersebut. Ia memastikan kondisi infrastruktur pipa terpantau aman dan menyatakan bahwa longsor lebih dipengaruhi oleh struktur tanah serta perubahan tata guna lahan.
Desakan Regulasi Tata Ruang
Keberlangsungan PLTA Garung dinilai sangat bergantung pada stabilitas ekosistem Telaga Menjer. Nazrul menyoroti maraknya pembangunan homestay dan fasilitas wisata yang dikhawatirkan menambah beban struktur tanah tanpa regulasi yang ketat.
Senada dengan hal tersebut, Ketua Yayasan Jagat Tunas Bumi (JATUBU), Mantep Abdul Ghoni, menilai kondisi sedimentasi ini merupakan alarm krisis ekologis. Ia berpendapat bahwa pengelolaan ruang di kawasan Menjer cenderung mengabaikan daya dukung lingkungan.
“Telaga Menjer adalah sumber energi sekaligus ekosistem vital. Jika pembangunan dibiarkan tanpa kendali, risiko longsor dan sedimentasi hanyalah tinggal menunggu waktu. Data beban sampah dan debit air seharusnya menjadi dasar bagi pemerintah daerah untuk melahirkan regulasi tata ruang yang lebih tegas,” tegas Mantep.
Ia menambahkan, perlindungan terhadap ekosistem adalah harga mati jika ingin menjaga keberlanjutan energi terbarukan di Wonosobo. Tanpa aturan yang mengikat, masa depan PLTA Garung dan kelestarian Telaga Menjer dipastikan berada dalam ancaman serius. (HIL)

















































