KUDUS,suaramerdekakedu.com – Duka mendalam menyelimuti wilayah Kabupaten Kudus seiring dengan meningkatnya intensitas bencana banjir yang merendam puluhan desa. Hingga Kamis (15/1), petugas gabungan dari BPBD, TNI, Polri, dan relawan masih terus berjibaku di lapangan untuk mengevakuasi warga yang terjebak di tengah kepungan air. Prioritas utama ditujukan bagi kelompok rentan, lansia, serta warga yang membutuhkan penanganan medis mendesak.
Proses penyelamatan berlangsung cukup dramatis, terutama di titik-titik dengan kedalaman air yang ekstrem. Di Desa Jetiskapuan dan Dukuh Goleng, Desa Pasuruhan Lor, tim medis terpaksa menggunakan brankar atau tandu ambulans yang diangkat manual untuk menembus genangan air menuju lokasi aman.
Prioritas Kelompok Rentan
Kapolsek Jati, AKP Hadi Noor Cahya, saat ditemui di lokasi evakuasi Desa Jetiskapuan mengungkapkan bahwa keselamatan jiwa menjadi fokus utama mengingat debit air yang terus merangkak naik.
“Kondisi di lapangan sudah cukup parah. Fokus kami saat ini adalah mengevakuasi ibu-ibu, anak-anak, balita, dan warga yang sakit ke posko-posko pengungsian yang telah disiapkan pemerintah daerah,” ujar AKP Hadi.
Meski demikian, proses evakuasi bukan tanpa hambatan. Terbatasnya jumlah armada perahu karet menjadi kendala krusial mengingat luasnya area terdampak yang sudah tidak mungkin lagi dijangkau oleh kendaraan bermotor, baik roda dua maupun roda empat. Ketinggian air di beberapa lokasi dilaporkan telah mencapai satu meter lebih.
Dampak Meluas dan Korban Jiwa
Data terbaru dari Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Kudus mencatat skala bencana yang kian masif. Banjir kini telah melanda sedikitnya 35 desa yang tersebar di tujuh kecamatan. Total warga yang terdampak diperkirakan mencapai 48.190 jiwa, di mana 596 jiwa di antaranya kini telah berada di tujuh titik pengungsian.
Salah seorang warga Desa Jetiskapuan, Rohmah, menuturkan betapa cepatnya air merangsek masuk ke permukiman. “Air naik sangat cepat sejak semalam. Di depan rumah saja sudah setinggi pinggang orang dewasa, sekitar 70 sentimeter. Kami tidak punya pilihan selain mengungsi demi keselamatan keluarga,” tuturnya lirih.
Tak hanya melumpuhkan aktivitas ekonomi dan merendam fasilitas umum, banjir kali ini juga membawa kabar duka. Dilaporkan dua orang warga meninggal dunia akibat terseret derasnya arus banjir. Selain itu, akses jalan nasional yang menghubungkan Kudus dengan wilayah sekitarnya juga sempat lumpuh total akibat genangan air yang tak kunjung surut.
Melalui tagar #PrayForKudus yang mulai ramai di jagat maya, masyarakat luas diajak untuk bahu-membahu memberikan dukungan bagi para penyintas. Pihak otoritas terus mengimbau warga yang masih bertahan di rumah untuk segera menghubungi relawan atau posko BPBD jika kondisi air terus meninggi dan membutuhkan bantuan evakuasi.

















































