INTERNASIONAL, suaramerdekakedu.com – Mantan Presiden Amerika Serikat, Donald Trump, secara terbuka menyampaikan dukungannya terhadap gelombang demonstrasi yang tengah mengguncang Iran. Melalui unggahan di platform Truth Social pada Selasa (13/1/2026), Trump menyerukan agar warga Iran terus melanjutkan aksi protes mereka.
Dalam pernyataannya, Trump tidak hanya memberikan dukungan moral, tetapi juga menjanjikan bantuan bagi para demonstran. Ia menegaskan bahwa “bantuan sedang dalam perjalanan” di tengah tindakan keras yang dilakukan oleh aparat keamanan Iran terhadap peserta aksi.
Desak Pengambilalihan Institusi
Trump mendorong rakyat Iran untuk tidak mundur dan mendesak mereka untuk mengambil alih institusi-institusi negara. Sikap keras ini diambil seiring dengan melonjaknya jumlah korban jiwa dalam kerusuhan tersebut.
Lembaga swadaya masyarakat di bidang Hak Asasi Manusia (HAM) memperkirakan lebih dari 2.000 orang tewas dalam gelombang protes ini. Angka tersebut jauh melampaui data resmi pemerintah Iran yang hanya mengonfirmasi sekitar 600 korban jiwa. Belakangan, beredar foto-foto yang menunjukkan ruang jenazah dipenuhi oleh jasad para demonstran, yang semakin memicu kemarahan publik.
Diplomasi dan Sanksi Ekonomi
Sebagai bentuk tekanan politik, Trump menyatakan telah membatalkan seluruh agenda pertemuan dengan pejabat Iran. Ia menekankan bahwa jalur komunikasi baru hanya akan dibuka apabila kekerasan terhadap demonstran dihentikan sepenuhnya.
Selain itu, Trump juga mengeluarkan kebijakan ekonomi yang agresif dengan memberlakukan tarif sebesar 25 persen bagi negara-negara yang masih menjalin hubungan dagang dengan Iran. Langkah ini memicu reaksi beragam dari dunia internasional:
Tiongkok dan Rusia: Mengkritik keras dan melayangkan protes atas kebijakan tarif tersebut.
Negara-negara Eropa: Mengecam kekerasan yang terjadi di Iran, namun tetap berupaya menahan diri dan menghindari intervensi militer secara langsung.
Sebelumnya, pihak Gedung Putih juga telah memberikan sinyal bahwa Amerika Serikat tidak akan ragu untuk melakukan serangan udara jika situasi terus memburuk.















































