TEMANGGUNG suaramerdekakedu.com – Alun-alun Temanggung bergetar saat 3000 penari Jaran Kepang tumpah ruah dalam sebuah pagelaran massal pada (12/1/2026). Acara kolosal ini menyatukan ribuan seniman lokal dan pelajar dari seluruh penjuru kabupaten dalam satu harmoni gerakan yang megah.
Acara gema 3000 jaran kepang ini, turut dihadiri Bupati Temanggung, Agus Setyawan yang hadir di tengah barisan penari untuk menambah semangat dan antusiasme masyarakat yang memadati Temanggung pagi hari ini.
Pagelaran ini diinisiasi sebagai perayaan Hari Kebudayaan sekaligus upaya dalam memperkuat identitas Kabupaten Temanggung sebagai pusat kesenian kuda lumping nusantara.
Melalui panggung terbuka ini, Pemkab Temanggung ingin menegaskan bahwa warisan tarisan nusantara adalah asset yang tidak ternilai harganya. “Ini adalah pernyataan sikap bahwa Temanggung tidak akan pernah lepas dari akar budayanya, seiring kita bergerak maju menuju masa depan,” tegas Bupati Temanggung di sela-sela acara.
Teknis pelaksanaan acara melibatkan koordinasi besar-besaran antar sanggar seni di setiap kecamatan. Para penari dari berbagai usia berlatih secara mandiri sebelum akhirnya bertemu untuk menarikan satu koreografi serempak yang dinamis.
Penyatuan ribuan energi ini menciptakan visualisasi budaya yang megah dan belum pernah terlihat sebelumnya di wilayah Jawa Tengah manapun.
Keterlibatan generasi muda khususnya pelajar, menjadi sorotan utama dalam upaya regenerasi pelaku seni. enurut Bupati, keterlibatan anak muda sangat krusial agar warisan ini tidak hanya menjadi pajangan sejarah, namun tetap hidup dan relevan. Beliau menambahkan, “Melihat anak-anak muda kita begitu lincah memegang kuda lumping hari ini, saya yakin bahwa identitas kita akan tetap abadi di tangan mereka.” Ungkap Agus Setyawan.
Acara yang ditutup dengan sorak-sorai penonton ini diharapkan mampu mendongkrak citra pariwisata Temanggung di level internasional. Keberhasilan mengumpulkan 3.000 penari secara rapi dan artistik membuktikan kematangan sinergi antara pemerintah dan komunitas kreatif. Pagelaran ini bukan sekadar mengejar rekor, melainkan bentuk penghormatan tertinggi terhadap dedikasi para pejuang kebudayaan di Bumi Phala.

















































