SUARAMERDEKAKEDU.COM, TEMANGGUNG- Banyak orang mengenal ayam Kedu dan Cemani, sedikit orang membudidayakan karena setidaknya tiga persoalan; harga tidak kompetitif, budidaya butuh waktu dan kalah populer. Padahal ayam kedu dalam sejarahnya adalah simbahnya para ayam di nusantara. Dari ayam Kedu lahirnya ayam Elba (petelur hebat silang ayam arab), Kuntara (kedu silang ras petelur) maupun jenis ayam lainnya yang rata-rata induknya dari ayam Kedu.
Ayam kedu, ayam selasih, atau ayam cemani adalah ras ayam lokal yang telah dikembangkan di di Pulau Jawa sejak abad ke-12. Ayam cemani memiliki gen dominan yang menyebabkan hiperpigmentasi (fibromelanosis), yang membuat ayam-ayam ini kebanyakan berwarna hitam, termasuk bulu, paruh, dan organ dalam. Ayam kedu pada awalnya berfungsi sebagai hewan ritual dan tidak dimuliakan sebagai pedaging atau petelur. Menurut catatan, ras lokal ini mulai ditangkarmurnikan oleh Tjokromihardjo pada tahun 1924, lalu dilanjutkan oleh dua anaknya. Khusus ayam cemani, yang paling bernilai sebagai bagian ritual atau pengobatan, terkait dengan legenda Ki Ageng Makukuhan.
Ayam Kedu adalah salah satu jenis ayam lokal yang berasal dari daerah Kedu, Jawa Tengah, Indonesia. Ternak ayam Kedu telah menjadi bagian penting dari kehidupan masyarakat Indonesia, terutama di daerah Jawa, sejak zaman dahulu. Sejarah ternak ayam Kedu ini erat kaitannya dengan budaya dan tradisi masyarakat lokal serta pengembangan peternakan di Nusantara.
Apa Itu Ayam Kedu?
Ayam lokal yang berwarna hitam ini merupakan unggas asli karesidenan Kedu. Namun ternyata anggapan tersebut tidak sepenuhnya benar. Ayam ini dibentuk dari hasil perkawinan silang antara ayam lokal Dieng dengan Ayam Dorking yang dibawa dari Inggris oleh Raffles.
Kemudian populasi ayam ini menyebar ke wilayah Kedu, makanya banyak yang memberi nama ayam ini sebagai Kedu. Tetapi sebelum 1926, ayam ini hanya dikenal dengan sebutan ayam hitam.
Keunikannya terdapat pada penampilannya yang mirip Cemani. Meski ayam ini memiliki produktivitas yang tinggi, kebanyakan orang merawatnya sebagai ayam hias, bukan untuk diambil telur atau dagingnya.
Tetapi peternak dapat membuat strain petelur atau pedaging dari ayam ini. Bila dijadikan petelur, kedu betina mampu menghasilkan sebanyak 25 butir telur selama masa birahi. Ukuran telur yang dihasilkan pun cukup besar, sekitar 50 sampai 60 gram.
Karakteristik Kedu dan Telurnya
Ayam yang sekilas tampak hitam legam ini ternyata tidak sepenuhnya hitam. Masih ada bagian-bagian lain yang berwarna kemerahan. Dari jauh penampilannya bahkan mirip dengan ayam kampung dan Cemani. Agar tidak tertukar dengan ayam yang lain, simak ciri-ciri fisiknya sebagai berikut:
1. Ciri ciri Ayam Kedu
Bobot kedu dewasa mencapai 1,5 sampai 2 kg.
Ditumbuhi bulu hitam pada seluruh permukaan kulit tubuh.
Jengger tebal dan berwarna gelap kemerahan.
Kulit tubuh berwarna putih kehitaman.
Matanya hitam gelap.
Paruh dan kaki ayam berwarna hitam semu.
Proporsi tubuh besar dan berisi.
2. Karakteristik Kedu Jantan
Bobotnya dapat mencapai 3 sampai 3,5 kg bila dijadikan strain pedaging.
Bulu tampak mengembang.
Daging cenderung kemerahan.
Ekor ayam menjuntai ke bawah.
Mata besar dan berwarna hitam kemerahan.
Paruh hitam kusam dengan ujung keabuan.
Terdapat warna merah atau kuning pada bagian punggung dan leher ayam.
3. Ciri-ciri Telur Kedu
Anak kedu berwarna abu-abu dan berbulu lembut.
Proses pengeraman telur berlangsung selama 21 hari.
Telur berwarna putih pucat sedikit kecokelatan, terkadang putih kemerahan.
Jenis Ayam Kedu
Secara umum, ayam ini terbagi menjadi tiga jenis. Masing-masing memiliki perbedaan pada warna pada beberapa bagian tubuhnya. Harga kedu merah dan putih lebih mahal ketimbang kedu hitam. Pahami dulu perbedaan dari masing-masing jenis sebagai berikut:
1. Kedu Merah
Meski jenisnya kedu merah, bukan berarti bulunya berwarna merah. Justru kedu ini memiliki bulu berwarna hitam yang menutupi bagian kaki, paruh dan mata,
Hanya saja jenggernya berwarna merah merona. Justru jenggernya yang menjadi daya tarik dari kedu merah ini. Kedu merah kurang cocok dijadikan petelur karena produktivitasnya masih kalah dengan ayam petelur lokal lainnya.
2. Kedu Hitam
Penampilannya mirip sekali dengan Ayam Cemani. Apalagi tubuhnya ditumbuhi oleh bulu berwarna hitam pekat. Tetapi kedu hitam masih memiliki bulu berwarna putih pada bagian samping sayap sampai brutu.
Beberapa ayam juga mempunyai warna sedikit merah. Berbeda dengan Cemani yang sepenuhnya hitam. Ayam ini mempunyai langit-langit paruh berwarna putih.
3. Kedu Putih
Ciri khas ayam ini adalah bulu berwarna putih yang menyelimuti tubuhnya. Mulai dari kaki dan bulu, semuanya putih. Sedangkan jenggernya tegak berwarna kemerahan. Paruh dan matanya berwarna kekuningan.
Penampilannya yang cantik membuat ayam ini dibudidayakan sebagai ayam hias. Tetapi bisa juga diambil dagingnya.
Asal Usul dan Jenis Ayam Kedu
Ayam Kedu sudah dikenal sejak zaman kerajaan di Jawa, terutama di Kerajaan Mataram. Ada beberapa jenis ayam Kedu yang populer, di antaranya:
1. Ayam Kedu Hitam: Memiliki bulu hitam pekat, bahkan daging dan organ dalamnya pun berwarna hitam. Ayam ini sering dianggap memiliki nilai mistis dan digunakan dalam upacara adat tertentu.
2. Ayam Kedu Merah: Berbulu merah keemasan, ayam jenis ini lebih umum digunakan untuk konsumsi daging dan telur.
3. Ayam Kedu Cemani: Jenis ini paling legendaris karena seluruh tubuhnya, termasuk kulit, bulu, daging, tulang, dan darah berwarna hitam. Ayam Cemani sering diasosiasikan dengan dunia spiritual dan dipercaya memiliki kekuatan
Di beberapa budaya, ayam hitam seperti Kedu Hitam sering digunakan dalam upacara adat atau ritual tertentu. Warna hitamnya yang eksotis sering kali dikaitkan dengan kekuatan magis atau spiritual. Misalnya, di beberapa daerah di Indonesia, ayam hitam digunakan sebagai simbol perlindungan dalam ritual atau acara keagamaan.
Ayam Kedu Hitam menawarkan berbagai keunikan dan manfaat yang menjadikannya layak dipertimbangkan dalam dunia peternakan. Dengan daging yang lezat, potensi manfaat kesehatan, serta nilai jual yang tinggi, ayam ini memiliki prospek bisnis yang menjanjikan. Pemeliharaannya yang mudah dan daya tahan yang baik terhadap penyakit juga menambah nilai plus bagi peternak. Meski mungkin belum sepopuler ayam kampung atau broiler, ayam Kedua Hitam memiliki peluang besar untuk berkembang sebagai komoditas unggul di masa depan.

















































