MAGELANG, suaramerdekakedu.com – Komunitas Kota Toea Magelang (KTM) kembali bersiap menghadirkan Johannes van der Steur Fest #5 tahun 2026. Festival ini guna memperingati hari kelahiran tokoh kemanusiaan era kolonial Belanda, Johannes van der Steur, 10 Juli 1865.
Festival berlangsung selama kurang lebih satu bulan, yaitu 1-26 Juli yang berpusat di makam Johannes van der Steur di kompleks Pemakaman Kerkof Jl Ikhlas Magelang. Sejumlah kegiatan sudah disiapkan dari bersih-bersih dan pengecatan kompleks makam hingga jelajah sejarah.
Koordinator Komunitas KTM, Bagus Priyana mengatakan, setiap tahun komunitasnya mengadakan festival ini sebagai penghormatan kepada Papa Steur yang sudah berjasa bagi kaum papa di jaman penjajahan Belanda. Kegiatan ini untuk mengingatkan perjalanan hidup sang tokoh berkebangsaan Belanda ini di Magelang dan sekitarnya, khususnya bagi kemanusiaan.
“Meski berkebangsaan Belanda, tapi Papa Steur banyak berjasa bagi kemanusiaan. Dia tidak memandang suku, agama, ras, dan bahasa, anak-anak korban perang dipeliharanya dengan penuh kasih sayang,” ujarnya di sela aksi bersih-bersih makam, Senin (6/7).
Dia menjelaskan, kepeduliannya pada nasib anak-anak terlantar akibat perang dan mengangkat derajatnya patut dihargai dan dikenang sepanjang sejarah. Papa Steur tidak hanya “ngopeni” dari sisi sandang dan pangan saja, tapi lebih dari sampai pada pendidikan, keterampilan, dan hidup yang layak.
“Apa yang dilakukan beliau di masa hidupnya itu sebenarnya masih sangat relevan sampai masa kini dan akan datang. Festival ini jadi sarana kita mengenang dan mempelajari kisah hidupnya bagi kemanusiaan yang penuh perjuangan,” tuturnya.
Bagus menyebutkan, sejumlah kegiatan akan diadakan. Di antaranya bersih-bersih makam pada 1-7 Juli dengan tujuan agar secara fisik terlihat lebih bersih, rapi, dan indah serta nyaman dikunjungi.
Kegiatan berikutnya peringatan hari lahir pada 10 Juli di kompleks makam. Selanjutnya jelajah sejarah pada 11 Juli, pameran foto dan arsip 24-26 Juli, dan bincang sejarah 26 Juli.
Dia mengungkapkan, khusus jelajah sejarah nanti akan mengulik perjalanan sang adik Johannes van der Steur, yaitu Sarah Marie van der Steur. Sekitar tahun 1890 ia datang ke Magelang untuk membantuk kakaknya mengelola panti asuhan di Meteseh Kota Magelang.
“Ia sempat pulang ke Belanda beberapa tahun dan kembali ke Magelang lagi. Saat kembali ini ia dipercaya kakaknya untuk mengelola perkebunan kopi seluas 200 hektar di Gambang Waluh, Kecamatan Semowono Kabupaten Semarang,” jelasnya.
Berjalan sekitar 7 tahun, kata Bagus, Sarah mendirikan panti asuhan di area perkebunan khusus untuk anak-anak disabilitas. Tidak lama dan karena sesuatu hal, panti asuhan dipindahkan ke Temanggung dan masih ada sampai sekarang yang bernama Sentra Terpadu Kartini yang dikelola Kementerian Sosial.
“Di jelajah nanti kami akan mengunjungi perkebunan itu, lalu makam suaminya Sarah Marie di Grafstal, dan ke panti asuhan Sentra Terpadu Kartini di Temanggung,” ucapnya.
Masih seputar Sarah Marie, imbuh Bagus, pihaknya akan mendisplay sejumlah foto dan arsip tentang Sarah Marie di kompleks makam Johannes van der Steur pada 24-26 Juli. Pameran kilas balik sepak terjang Sarah Marie ini supaya masyarakat mengetahui bahwa di balik perjuangan sosial Johannes van der Steur ada orang di sekitarnya yang juga sangat peduli pada anak-anak terlantar, khususnya disabilitas.
“Masih di kompleks makam, kita akan hadirkan juga bincang sejarah yang terbuka untuk umum. Kami ingin menjadikan kompleks makam ini sebagai ruang publik, siapa saja boleh hadir untuk belajar bersama,” ungkapnya. (H88)




















































